Kamis, 15 September 2016

sejarah perang tiga agama

"sejarah perang tiga agama"

BAB I
PENDAHULUAN

Sejak kekuasaan Bani Abbasiyah didominasi oleh orang-orang Turki, Buwaihi dan Saljuk, Otoritas kekuasaanya tidak mempunyai pengaruh politik sama sekali dan dapat dikatan hanya sebagai boneka saja. Hal ini ditandai dengan melemahnya kepatuhan dinasti-dinasti kecil yang berada dibawah taring kekuasannya. Perpecahan dikalangan umat islam membuka jalan bagi rezim-rezim non-muslim seperti Mongol dan pasukan dari Negara-negara Eropa untuk menguasai Negara Islam dan peradabannya.
            Perang salib menyebabkan banyak kerugian dikalangan umat Islam terutama dalam aspek politik. Imeprium Islam dihancurkan secara sistematik.  Belum lagi kedatangan orang-orang Mongol yang membawa malapetaka dan bencana terhadap umat Islam melalui pembantaian, sistem perbudakan dan bebean pajak yang tinggi. Bahkan Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan takut pula dibumi hanguskan oleh Hulagu Khan dan pasukannya.
Konflik antar Negara Palestina dan Israel telah menjadi bahan perbincangan dunia, bukan saja latar belakang masalahnya tetapi juga Negara mana saja yang ikut berperan dalam konflik ini.Bahkan konflik ini menjadi agenda utama dalam sidang umum PBB, namun hingga sekarang konflik ini belum terselesaikan meskipun PBB telah mengeluarkan ratusan resolusi.
Di tinjau dari sejarahnya, konflik ini merupakan konflik perebutan wilayah antara dua bangsa.Konflik berawal ketika gerakan Zionisme Yahudi yang di populerkan oleh seorang jurnais berkebangsaan Austria bernama Theodore Herzl mulai marak di kawasan Eropa.Gerakan ini menyebabkan perpindahan masyarakat Yahudi ke Timur Tengah.Sementara pada saat itu wilayah Palestina dan Israel menjadi kekuasaan Ottoman.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    SEJARAH PERANG ANTARA ISLAM DAN KRISTEN (PERANG SALIB)
Perang salib berlangsung selama kurang lebih dua abad,di mulai dari perang salib I sampai perangsalib VIII yaitu dari tahun 1095-1291. Perang Salib adalah penyerangan dari kefanatikan Kristen yang dikoordinir oleh Paus yang mempunyai tujuan untuk merebut kota suci Palestina dari tangan kaum Muslimin.Selain itu, perang ini  yang disebabkan oleh beberapa faktor lain  yakni faktor agama,politik,sosial-ekonomi. 
Perang yang terjadi hampir dua abad ini adalah timbul karena reaksi orang Kristen terhadap umat Islam yang dianggap sebagai pihak penyerang. Berdasarkan sejarah yang ada, sejak tahun 632 sampai meletusnya perang salib beberapa kota penting dan tempat suci umat Kristen dikuasai oleh umat Islam, seperti Suriah, Asia Kecil, Spanyol, dan Sicilia.[1] 
Peristiwa ini merusak hunbungan antara dunia Timur dan dunia Barat khususnya antara agama islam dan kristen. Penyerbuan yang berjalan selama dua abad lamanya memakan korban baik jiwa maupun harta dan kebudayaan yang tidak sedikit banyaknya.Selain itu,masih banyak lagi dampak dari perang salib ini.Dinamakan Perang Salib, karena setiap orang Eropa yang ikut bertempur dalam peperangan memakai tanda salib pada bahu, lencana dan panji-panji mereka. 
Istilah ini juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama abad ke-16 di wilayah di luar Benua Eropa, biasanya terhadap kaum pagan dan kaum non-Kristiani untuk alasan campuran; antara agama, ekonomi, dan politik. Skema penomoran tradisional atas Perang Salib memasukkan 8 ekspedisi besar ke Tanah Suci selama Abad ke-11 sampai dengan Abad ke-13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut hingga Abad ke-16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance. 
Sebab terjadinya Perang Salib adalah karena kerajaan Seljuk menghalang-halangi kaum Kristen untuk beribadah dan memperlakukan mereka sebagai golongan marginal yang diperlakukan semena-mena, selain itu, kaum Islam juga disebut0sebut telah menghina mereka dan agama mereka. Hingga kaum Kristen melaporkan hal ini kepada Paus Urbanus II pada tahun 1095.[2]
Setelah Paus Urbanus IImendengar hal ini, maka Paus Urbanus II langsung mengumpulkan semua umat Kristen dan menyampaikan pidato terbuka berapi-api di luar sebuah biara Prancis yang disebut Claremont. Dalam pidatonya Paus Urbanus II mengatakan kepada majelis bangsawan Jerman, Prancis, dan Italia bahwa dunia Kristen sedang dalam bahaya. Dan menyeru kepada seluruh umat Kristen untuk membantu sesama umat Kristen untuk mengusir umat Islam dari Yerussalem dan menyuruh mereka untuk selalu menggunakan salib, sehingga perang ini dinamakan Crusades (Perang Salib).[3] 
Dalam buku lain disebutkan bahwa cikal bakal terjadinya Perang Salib adalah karena kehawatiran orang Bizantium atas serangan Dinasti Seljuk yang ingin menyerang Bizantium yang hendak menguasai pertanian di Bizantium. Sehingga kaisar Bizantium yakni Alexius Commenus meminta bantuan Paus Urbanus II untuk menggerakkan kaum Kristen untuk membantu mereka menghalau kedatangan Seljuk.[4] Paus Urbanus II ahirnya memenuhi permintaan kaisar Bizantium. Paus Urbanus II kemudian mengumpulkan kaum Kristen untuk bersatu menyerang kaum Islam. [5]
Dalam pidatonya, Paus Urbanus II mengobarkan semangat umat kristen dengan cara menyatakan bahwa dengan mengikuti perang salib maka dosa-dosa yang lalu akan diampuni dan dijamin masuk surga, selain itu keluarga pejuang perang salib akan mendapat jaminan hidup dan keselamatan.
Sehingga para pejuang Perang Salib tidak hanya berasal dari daerah Roma saja, akan tetapi berasal dari kerajaa-kerajaan di Eropa, mulai dari relawan rakyat biasa, pedagang, petani, bahkan para perampok yang ingin masuk surga.[6]
Dari beberapa uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa sebab-sebab terjadinya Perang Salib antara lain:[7] 
  1. Faktor Agama
Direbutnya Baitul Maqdis (471 H/ 1070 M) oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam menunaikan ibadah di tempat sucinya. Karena Dinasti Seljuk menerapkan peraturan yang sangat ketat kepada para umat Kristiani ketika hendak beribadah di Tanah Suci (Baitul Maqdis). Hingga mereka yang baru pulang dari beribadah ke Baitul Maqdis selalu mengeluh akan sikap buruk Dinasti Seljuk yang terlalu fanatik. 
Para pemimpin politik Kristen tetap saja masih berfikir keuntungan yang dapat diambil dari konsepsi mengenai Perang Salib, dan untuk memperoleh kembali keleluasaannya berziarah ke tanah suci Yerussalem. Pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristiani di Eropa supaya melakukan perang suci. Seruan Paus Urbanus II berhasil memikat banyak orang-orang Kristen karena dia menjanjikan sekaligus menjamin, barang siapa yang melibatkan diri dalam perang suci tersebut akan terbebas dari hukuman dosa. 
2.      Faktor Politik
Kekalahan Bizantium (Constantinople/Istambul) di Manzikart pada tahun 1071 M, dan jatuhnya Asia kecil dibawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius I Comneus (kaisar Bizantium) untuk meminta bantuan Paus Urbanus II, dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Saljuk. Dilain pihak Perang Salib merupakan puncak sejumlah konflik antara negara-negara Barat dan negara-negara Timur, maksudnya antara umat Islam dan umat Kristen.
Dengan perkembangan dan kemajuan yang pesat menimbulkan kecemasan pada tokoh-tokoh Barat, sehingga mereka melancarkan serangan terhadap umat Islam. Situasi yang demikian mendorong penguasa-penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu-persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti Mesir, Yerussalem, Damascus, Edessca dan lain-lainnya.
Selain itu, kondisi kekuasaan Islam pada saat itu sedang melemah. Sehingga orang-orang Kristen Eropa berani untuk melakukan pemberontakan dengan cara Perang Salib, yajni ketika Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir sedang dalam keadaan lumpun, sedangakan Islam di Spanyol semakin goyah. Keadaan ini semakin parah dengan pertentangan segitiga antara kholifah Fatimiyah di Mesir, kholifah Abbasiyah di baghdad, dan kholifah Umayyah di Cordoba.
3.      Faktor Sosial
Stratifikasi sosial yang terdapat pada masyarakat sosial Eropa yang terbagi kepada tiga tingkat, yakni kaum gereja, kaum bangsawan, dan kaum rakyat jelata. Rakyat jelata dianggap sebagai kaum marginal dan tidak memiliki kedudukan apapun dalam masyarakat, kehidupan mereka sangat tertindas dan harus mengikuti apa kata tuan tanah, sehingga kehidupan mereka selalu dibayang-bayangi rasa kehawatiran.
Dengan adanya seruan untuk Perang membuat mereka bersemangat. Dengan harapan agar mereka bisa memiliki kedudukan yang lebih baik lagi, selain itu mereka diberi janji untuk mendapatkan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik.


4.      Faktor Ekonomi
Semenjak abad ke X, kaum muslimin telah menguasai jalur perdagangan di laut tengah, dan para pedagang Eropa yang mayoritas Kristen merasa terganggu atas kehadiran pasukan muslimin, sehingga mereka mempunyai rencana untuk mendesak kekuatan kaum muslimin dari laut itu.
Hal ini didukung dengan adanya ambisi yang luar biasa dari para pedagang-pedagang besar yang berada di pantai Timur laut tengah (Venezia, Genoa dan Piza) untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan laut tengah, sehingga dapat memperluas jaringan dagang mereka, Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka, karena jalur Eropa akan bersambung dengan rute-rute perdagangan di Timur melalui jalur strategis tersebut. 
Strata sosial juga berpengaruh pada faktor ekonomi. Hal ini karena ada sebuah tradisi bahwa pewaris harta adalah anak tertua, ketika anak tertua meninggal maka semua harta akan diserahkan kepada gereja. Hal ini menyebabkan populasi kemiskinan di Eropa semakin tinggi, sehingga ketika ada seruan untuk melakukan Perang Salib mereka mendapatkan secercah harapan untuk perbaikan ekonomi. 
Perang Salib merupakan perang suci bagi umat Kristiani, akan tetapi Perang Salib sebagai perang suci hanyalah sebagai kedok pemimpin gereja Roma, karena sebenarnya faktor dan tujuan Perang Salib adalah karena Politik dan Ekonomi. Sehingga beberapa relawan Perang Salib juga tidak hanya perang atas nama Tuhan, akan tetapi karena kepentingan masing-masing.[8]
Saat perang Salib, tentara Kristen, Jerman, Yahudi membantai orang Islam di jalan-jalan. Berbalik 180 derajat dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Padahal Islam biasanya memperlakukan negara Kristen jajahanya dengan baik dan bahkan mereka diberi jabatan dalam pemerintahan.[9]
“Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.” 

Di atas adalah pernyataan dari Salahuddin al-Ayyubi yang menggambarkan tentang keadaan pada Perang Salib. Keadaan yang seperti ini pasti akan sangat menggugah hati siapapun yang membaca dan meresapi seraya membayangkan keadaan umat Islam yang diperlakukan sedemikian rupa. 

B.     SEJARAH PERANG ANTARA ISLAM DAN YAHUDI
1.      Sejarah singkat konflik islam dan yahudi
Sebagaimana yang telah kita ketahui, konflik Israel-Palestina seringkali dipahami sebagai konflik Yahudi-Islam dan hal ini berhasil mensugesti hampir seluruh dunia Islam untuk membeci Yahudi dengan segala macam “derivasinya”.Sikap anti-pati terhadap Yahudi di kalangan mayoritas Islam bahkan telah ditanamkan demikian mengakar mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikann Islam.[10] Yahudi kerap digambarkan sebagai makhluk berwatak jelek, berwajah bengis dan berhati keji, sehingga tidak heran jika kemudian istilah “Yahudi” dijadikan sebagai bahasa cemooh untuk menyebutkan orang yang “bersifat jelek”.
Segala kemungkinan bisa saja terjadi ketika kebencian telah dijadikan sebagai landasan untuk berpikir dan bertindak. Dalam konflik Israel-Palestina misalnya, seruan agar umat Islam bersatu untuk melawan Zionis-Yahudi bukan sesuatu yang aneh disuarakan meski dengan alasan yang masih sulit ditebak: apakah merasa senasib dengan warga Islam Palestina, atau justru dipicu oleh kebencian terhadap Yahudi yang telah jauh ditanamkan. Sebaliknya, umat Islam dunia bahkan sulit untuk memberikan dukungan kepada pihak mana ketika terjadi perang Saudara Sunni-Syiah di wilayah Timur tengah, tetap saja sebagai perang melibatkan korban jiwa yang tidak dapat ditolerir secara kemanusiaan.
Hampir mustahil melacak kronologis sejak kapan umat Islam dididik untuk membenci Yahudi, namun fakta yang ada justru menunjukkan hubungan keduanya cukup baik sepanjang sejarah umat Islam awal hingga periode pertengahan.Dalam literatur Islam orang Yahudi diabadikan sejarah sebagai orang yang pernah menjadi sekretaris nabi khususnya untuk keperluan korespondensi luar negeri, bahkan nabi juga menunjukkan toleransinya kepada Yahudi dengan berpuasa pada saat mereka berpuasa.[11] Pada periode Islam di Spanyol, umat Islam, Yahudi, dan Kristen bersama-sama membangun dan menghasilkan sebuah peradaban yang berpengaruh pada Renaisance Eropa.[12]
Memang kerukunan yang terjalin antara umat Islam dan Yahudi bukan berarti tanpa konflik.Ketika pengaruh Muhammad semakin kuat dan daya imbau agama yang diajarkannya semakin terasa di kalangan Yahudi, para pemuka agama Yahudi mulai mengabaikan perjanjian damai yang pernah dibuat dengan umat Islam. Pengabaian terbuka atas perjanjian itu ditandai dengan masuk Islamnya Abdullah bin Salam, seorang rabi terpandang Yahudi yang sempat membujuk keluarganya untuk masuk ke agama Islam. Kondisi ini membuat Yahudi merasa terancam dan mulai melancarkan serangan teologis terhadap Muhammad dengan sejumlah pertanyaan dan perdebatan mengenai pokok-pokok dasar agama Islam. Kebijakan resmi untuk memerangi Yahudi digariskan Muhammad sejak pristiwa pelecehan seorang wanita muslim oleh sekelompok Yahudi bani Qainuqa. Sejak saat itu, satu persatu kelompok Yahudi diusir dari Madinah karena terbukti mendukung pihak Makkah.Kondisi ini sebagaimana ditulis Hamid Basyaib jelas menunjukkan pertikaian yang disebabkan oleh masalah politik.[13]
Hingga terjadi konflik Israel-Palestina yang dalam banyak hal dipandang sebagai konflik Yahudi-Islam, analisis tentang masalah politik sebagai pemicu konflik juga banyak digulirkan berbagai pihak.Konflik ini misalnya, merupakan konflik yang dipicu oleh klaim hak atas tanah Palestina dari kedua pihak yang bertikai.Seperti ditulis Trias Kuncahyono, Israel selalu mengatakan posisi legal internasional mereka atas Jerusalem berasal dari mandat Palestina (Palestine Mandate, 24 Juli 1922). Di pihak lain, Palestina juga menyatakan Jerusalem (al Quds) akan menjadi ibu kota negara Palestina Merdeka di masa mendatang atas dasar klaim pada agama, sejarah dan jumlah penduduk di kota itu.[14] Pertikaian kedua belah pihak pada akhirnya sulit dihindari, sebab klaim hak atas tanah Palestina bukan sekedar menyangkut latar belakang sejarah dan wilyah politik, melainkan masalah simbol spiritualitas besar bagi kedua pihak.
Trias Kuncahyono mengutip Dershowitz[15] menuliskan, pembagian Jerusalem – menjadi bagian Israel dan bagian Palestina – sulit untuk dilaksanakan karena peta demografi tidak mudah diubah menjadi peta politik. Meskipun peta tersebut telah terbagi sebagai wilayah yang dihuni orang-orang Israel dan wilyah lain yang dihuni orang-orang Palestina, Jerusalem akan semakin sulit dibagi karena ia merupakan simbol tiga agama besar yang letaknya saling berdekatan. Jerusalem adalah pusat Yudaisme, tempat disalibnya Yesus dan kebangkitan serta kenaikannya ke surga, dan tempat yang diyakini umat Islam sebagai bagian dari perjalanan spiritualitas Muhammad ketika mengalami perjalanan malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha dan naik ke Sidratul Munthaha.
Yahudi menganggap Palestina sebagai “tanah yang dijanjikan” dan mayoritas mereka meyakini bahwa Yerusalem harus kembali menjadi ibu kota Israel sebagai intervensi Tuhan untuk mengembalikan hak bangsa Yahudi yang selama ini tertindas.[16] Pandangan ini mengakibatkan pergeseran paradigma politik yang mewarnai konflik Israel-Palestina ke paradigma teologis. Apalagi, mitos yang kerap dikembangkan untuk memberikan identitas pada Yahudi, adalah: “bangsa tanpa tanah untuk tanah tanpa bangsa”.[17] Streotipe tentang Yahudi sebagai “bangsa yang terusir dari tanahnya” ini juga telah berhasil membentuk konsep teologis orang-orang Yahudi, bahwa – seperti ditulis Karen Armstong – Tuhan memulai penciptaan dengan tindakan yang kejam karena keinginan untuk membuat dirinya dikenal oleh para makhluknya.[18] Keterkucilan dan pengasingan Yahudi bahkan pernah di alami Adam sebelumnya, karena dosa yang dilakukan Adam membuat ia terusir dari surga. Demikian Yahudi, mengembara ke seluruh penjuru dunia, menjadi terkucil selamanya, dan merindukan penyatuan kembali dengan Tuhan.[19]
Ada mitos lain yang menarik menyangkut konsep teologi Yahudi, yaitu penantian terhadap datangnya sorang Messiah selama berabad-abad yang diharapkan akan membawa keadilan dan perdamaian. Dalam keyakinan Yeshiva, sebuah sekte yang didirikan R. Shalom Dov Ber yang sangat khawatir terhadap masa depan agama Yahudi, mereka akan menjadi prajurit dalam pasukan rabi yang akan berperang tanpa kenal ampun dan kompromi untuk memastikan agama Yahudi sejati tetap bertahan, dan perjuangan mereka akan meratakan jalan bagi kedatangan Messiah.[20] Cukup beralasan jika kemudian keyakinan Yeshiva ini dipahami dengan pandangan: Messiah hanya akan turun ketika terjadi keberutalan dan peperangan (ingat mitos penciptaan Luria.[21]

2.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konflik Islam Dan Yahudi
Berdasarkan uraian mengenai konflik Israel-Palestina sebagaimana dipaparkan di atas, terlihat jelas bahwa, baik dimensi politik maupun dimensi teologis menjadi dua hal yang sulit dipisahkan meskipun keduanya harus dapat dibedakan.Beberapa catatan mengenai konflik Israel-Palestina bahkan memperlihatkan sebuah analisis tentang pandangan konflik yang bermula dari persoalan politik ke teologis.Fakta semacam ini dapat dibenarkan, mengingat dalam litaratur Islam sendiri persoalan persoalan politik lebih dahulu muncul disusul dengan persoalan teologi. Seperti disebutkan Harun Nasution, memang agak aneh jika dikatakan bahwa persoalan yang pertama kali timbul dalam Islam adalah persoalan politik yang kemudian meningkat menjadi persoalan teologi, akan tetapi sejarah menunjukkan fakta tersebut.[22] Selain itu, sulitnya memisahkan antara konflik politik dengan konflik teologis tidak saja disebabkan oleh pergeseran otomatis yang terjadi dari masalah politik ke teologi sebagaimana yang seringkali muncul, akan tetapi konflik yang bermula dari persoalan teologi juga tidak jarang memasuki ranah politik sebagai reaksinya untuk “bertarung” melawan teologi yang lain. Dengan demikian, konflik politik maupun konflik teologis menjadi dua hal yang saling membaur dan membutuhkan peranan yang satu terhadap yang lainnya.
Dari berbagai catatan mengenai latar belakang konflik Israel-Palestina sebagai bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas, tampak jelas bahwa konflik ini terlebih dahulu dilatarbelakangi oleh masalah politik yang kemudian menjurus pada persoalan teologis. Tidak sepenuhnya benar pandangan yang menganggap bahwa konflik Israel-Palestina murni sebagai persoalan politik, sebab argumentasi teologis – khususnya yang datang dari pihak Yahudi – juga turut mengambil peranan dalam konflik ini.Pernyataan yang mungkin lebih tepat adalah, konflik Palestina-Israel merupakan konflik yang bermula dari persoalan politik dan sedikit melibatkan persoalan teologis.Namun demikian, sekecil apapun alasan teologis yang melatar belakangi konflik Israel Palestina, tetap saja alasan tersebut memiliki pengaruh yang besar pada kebijakan-kebijakan politik yang diambil oleh negara Israel.
Persoalan teologis yang penulis maksud adalah keyakinan bangsa Yahudi terhadap tanah yang dijanjikan dan harus direbut sebagai bentuk intervensi Tuhan untuk mengembalikan hak bangsa Yahudi yang telah tertindas. Konsep teologis tidak dimaksudkan sebagai perang agama yang terjadi antara agama Yahudi dan Islam yang menjadi pandangan “kolektif” hampir seluruh umat Islam, dan harus ditegaskan bahwa pandangan semacam ini merupakan pandangan yang keliru.[23] Sepanjang sejarahnya, konflik antara Yahudi dan Islam atas nama agama belum pernah terjadi, sungguhpun konflik Israel-Palestina telah berlangsung sejak enam puluh tahun silam. Sebaliknya, konflik atas nama agama justru dialami Yahudi dengan umat Nasrani, ketika Ferdinand dan Isabella menaklukan Granada pada tahun 1942 dan memerintahkan pengusiran perkampungan Yahudi yang mengakibatkan sekitar 70.000 kaum Yahudi berpindah ke agama Kristen, dan mereka yang terusir hidup di bawah perlindungan Islam (Imperium Utsmaniyah).[24]
Memahami situasi konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, analisis sosial tentu menjadi alternatif yang mutlak diperlukan untuk mencari jalan keluar yang tepat, karena konflik ini – secara luas – menyangkut masalah interaksi sosial yang menyentuh berbagai aspek. Interaksi sosial tidak selamanya dapat dipahami sebagai hubungan timbal balik yang bernilai kooperatif (cooperation), akan tetapi persaingan (competition) dan pertantangan maupun pertikaian (conflict) merupakan salah satu bentuk interaksi sosial itu sendiri.[25] Holsti bahkan menyebutkan, pada dasarnya segala jenis hubungan (interaksi) menunjukkan adanya sifat konflik.[26] Karenanya, solusi untuk konflik sosial yang membingkai interaksi Israel-Palestina hanya dapat ditempuh melalui analisis sosial mengingat langkah ini dapat mengantarkan pemahaman pada faktor-faktor yang membentuk interaksi antar kelompok dan situasi yang membentuk interaksi tersebut pada level ketegangan maupun hubungan yang harmonis.[27]
Setidaknya, interaksi Israel-Palestina yang membentuk konflik teridentifikasi pada dua masalah besar: politik dan teologis. Jika dilacak dari latarbelakang sejarahnya, masalah politik pada prinsipnya menjadi pemicu utama yeng membentuk situasi konflik Israel-Palestina, dan argumentasi teologis tentang berbagai hal seperti: keyakinan tentang tanah yang dijanjikan; bangsa terpilih; maupun “tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah”; menjadi kekuatan lain yang membentuk konflik. Beberapa kalangan bahkan menganggap argumentasi teologis ini merupakan politik mitos yang diciptakan oleh bangsa Yahudi sendiri untuk melegitimasi setiap tindakannya dalam mendapatkan “tanah yang dijanjikan”, sehingga pandangan ini semakin berpotensi membentuk anggapan bahwa konflik Israel-Palestina murni sebagai konflik yang dipicu oleh permasalahan politik.


























BAB III
KESIMPULAN
Peperangan yang terjadi antara islam dan Kristen (perang salib) merupakan konflik yang dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu :
1.      Faktor agama
2.      Faktor sosial
3.      Faktor ekonomi
4.      Faktor politik
Sedangkan konflik yang terjadi antara islam dan yahudi (konflik israel-palestina), secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
1.      Faktor politik
2.      Faktor theologies











SEJARAH PERANG TIGA AGAMA
“konflik islam-kristen dan islam-yahudi”









Oleh:
Yoka Zulfiqor

Dosen Pembimbing
Dr. Moh. Dahlan, M. Ag









JURUSAN FILSAFAT AGAMA
PASCA SARAJANA
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
2015/2016


[1] Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003), hal.  240
[2] Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History of the World trought Islamic Eyes. Diterjemahkan oleh Yulianto Liputo, (Jakarta:Zaman, 2010), hal. 230
[3] Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History of the World trought Islamic Eyes. Diterjemahkan oleh Yulianto Liputo, (Jakarta:Zaman, 2010), hal. 230
[4] Meskipun antara Kristen Ortodoks Yunani yang berpusat di Bizantium telah terjadi perselisihan dengan Roma selama empat puluh tahun terahir.
[5] Abu Su’ud, Islamologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 100.
[6] Syamsul Bakri, Peta Sejaran Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fajar Media Press, 2011), hal.  109
[7] Syamsul Bakri, Peta Sejaran Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fajar Media Press, 2011), hal.  110
[8] Syamsul Bakri, Peta Sejaran Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fajar Media Press, 2011), hal.  109
[9] Abu Su’ud, Islamologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 101
[10] Lihat: Irshad Mandji. 2008. “The Truble with Islam Today: A Wake Up Call for Honesty and Change”. Terjemah: Herlina Permata Sari. Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Jakarta: Nun Publisher
[11] Lihat: Muhammad Husein Haekal. 1982. Sejarah Hidup Muhammad. (Terjemah: Ali Audah). Jakarta: Tintamas
[12] Lihat: Philips K. Hitti. 2002. History of the Arabs. (terjemah: R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi. S. Riyadi. Jakarta: Serambi
[13] Hamid Basayib. 1998. “Perspektif Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi”, dalam: Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed). Pasing Over: Melintasi Batas Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm:346
[14] Trias Kuncahyono. 2008. Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: Kompas, hal. 256-257
[15] Trias Kuncahyono. 2008. Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: Kompas, hal. 258
[16] Alwi Shihab. 1999. Islam Inklusive: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan, hlm:134
[17] Ralph Scoenman. 2007. “The Hidden Histroy of Zionism”. Terjemah: Joko. S. Kahhar. Sejarah Zionisme yang Tersembunyi.Sajadah Perss. 2
`[18] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta: Jendela, hlm. 14
[19] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta: Jendela, hlm. 15
[20] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta: Jendela, hlm. 16
[21] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta: Jendela, hlm. 231
[22] Dalam sejarahnya, persoalan teologi pada mulanya muncul sebagai akibat dari tahkim siffinyang terjadi antara Muawiyah dan Ali. Problem Muawiyah dan Ali jelas merupakan problem politik menyangkut kekuasaan Islam. Namun problem ini kemudian melahirkan sejumlah aliran-aliran teologis, seperti: Syiah, Khawarij, dan Murji’ah sebagai aliran awal, menyusul aliran-aliran lain seperti Mu’tazilah. (Lihat: Harun Nasution. 1986. Teologi Islam:Aliran-Aliran Sejarah Analisa, dan Perbandingan. Jakarta: UI Press.
[23] Dalam beberapa pandangan, agama kerap ditempatkan sebagai salah satu variable pembentuk konflik, sebab semua agama yang dibawa oleh para utusan Tuhan pada hakikatnya berada dalam misi universal yang sama: pertama, memberikan afirmasi terhadap kebutuhan spiritual manusia; kedua, agama diharapkan mampu mewadahi bagi terimplementasikannya amal-amal social dan kemanusiaan. (Rohadi Abdul Fatah. 2004. Sosiologi Agama. Jakarta: Titian Kencana Mandiri, hlm:114
[24] Lihat: Karen Armstong, 2001, opcit, hal: 10-11
[25] Lihat: Soerjono Soekanto. 1996. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Perss, hlm:76
[26] K. J. Holsti. 1988. Politik Nasional, Kerangka untuk Analisis. Jakarta: Rajawali Perss, hlm:171
[27] Lihat: Meutia Ghani. 2007. “Analisis Sosial Relasi Etno-Religius di Indonesia”. Buletin: Kebebasan. No: IV/2007, hlm. 2
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar