"sejarah perang tiga agama"
BAB
I
PENDAHULUAN
Sejak kekuasaan Bani Abbasiyah didominasi oleh orang-orang
Turki, Buwaihi dan Saljuk, Otoritas kekuasaanya tidak mempunyai pengaruh
politik sama sekali dan dapat dikatan hanya sebagai boneka saja. Hal ini
ditandai dengan melemahnya kepatuhan dinasti-dinasti kecil yang berada dibawah
taring kekuasannya. Perpecahan dikalangan umat islam membuka jalan bagi
rezim-rezim non-muslim seperti Mongol dan pasukan dari Negara-negara Eropa
untuk menguasai Negara Islam dan peradabannya.
Perang salib menyebabkan banyak kerugian dikalangan umat Islam terutama dalam
aspek politik. Imeprium Islam dihancurkan secara sistematik. Belum lagi
kedatangan orang-orang Mongol yang membawa malapetaka dan bencana terhadap umat
Islam melalui pembantaian, sistem perbudakan dan bebean pajak yang tinggi.
Bahkan Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban islam yang sangat kaya
dengan khazanah ilmu pengetahuan takut pula dibumi hanguskan oleh Hulagu Khan
dan pasukannya.
Konflik antar Negara Palestina dan Israel telah menjadi
bahan perbincangan dunia, bukan saja latar belakang masalahnya tetapi juga
Negara mana saja yang ikut berperan dalam konflik ini.Bahkan konflik ini
menjadi agenda utama dalam sidang umum PBB, namun hingga sekarang konflik ini
belum terselesaikan meskipun PBB telah mengeluarkan ratusan resolusi.
Di tinjau dari sejarahnya, konflik
ini merupakan konflik perebutan wilayah antara dua bangsa.Konflik berawal
ketika gerakan Zionisme Yahudi yang di populerkan oleh seorang jurnais
berkebangsaan Austria bernama Theodore Herzl mulai marak di kawasan
Eropa.Gerakan ini menyebabkan perpindahan masyarakat Yahudi ke Timur
Tengah.Sementara pada saat itu wilayah Palestina dan Israel menjadi kekuasaan
Ottoman.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH PERANG ANTARA ISLAM DAN
KRISTEN (PERANG SALIB)
Perang
salib berlangsung selama kurang lebih dua abad,di mulai dari perang
salib I sampai perangsalib VIII yaitu dari tahun 1095-1291. Perang Salib adalah
penyerangan dari kefanatikan Kristen yang dikoordinir oleh Paus yang
mempunyai tujuan untuk merebut kota suci Palestina dari tangan kaum
Muslimin.Selain itu, perang ini yang disebabkan oleh beberapa faktor
lain yakni faktor agama,politik,sosial-ekonomi.
Perang
yang terjadi hampir dua abad ini adalah timbul karena reaksi orang Kristen
terhadap umat Islam yang dianggap sebagai pihak penyerang. Berdasarkan sejarah
yang ada, sejak tahun 632 sampai meletusnya perang salib beberapa kota penting
dan tempat suci umat Kristen dikuasai oleh umat Islam, seperti Suriah, Asia
Kecil, Spanyol, dan Sicilia.[1]
Peristiwa
ini merusak hunbungan antara dunia Timur dan dunia Barat khususnya antara agama
islam dan kristen. Penyerbuan yang berjalan selama dua abad lamanya memakan
korban baik jiwa maupun harta dan kebudayaan yang tidak sedikit
banyaknya.Selain itu,masih banyak lagi dampak dari perang salib ini.Dinamakan
Perang Salib, karena setiap orang Eropa yang ikut bertempur dalam peperangan
memakai tanda salib pada bahu, lencana dan panji-panji mereka.
Istilah
ini juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama abad
ke-16 di wilayah di luar Benua Eropa, biasanya terhadap kaum pagan dan kaum non-Kristiani untuk alasan
campuran; antara agama, ekonomi, dan politik. Skema penomoran tradisional atas
Perang Salib memasukkan 8 ekspedisi besar ke Tanah Suci selama Abad ke-11
sampai dengan Abad ke-13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut
hingga Abad ke-16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah
secara signifikan selama masa Renaissance.
Sebab
terjadinya Perang Salib adalah karena kerajaan Seljuk menghalang-halangi kaum
Kristen untuk beribadah dan memperlakukan mereka sebagai golongan marginal yang
diperlakukan semena-mena, selain itu, kaum Islam juga disebut0sebut telah
menghina mereka dan agama mereka. Hingga kaum Kristen melaporkan hal ini kepada
Paus Urbanus II pada tahun 1095.[2]
Setelah
Paus Urbanus IImendengar hal ini, maka Paus Urbanus II langsung mengumpulkan semua
umat Kristen dan menyampaikan pidato terbuka berapi-api di luar sebuah biara
Prancis yang disebut Claremont. Dalam pidatonya Paus Urbanus II
mengatakan kepada majelis bangsawan Jerman, Prancis, dan Italia bahwa dunia
Kristen sedang dalam bahaya. Dan menyeru kepada seluruh umat Kristen untuk
membantu sesama umat Kristen untuk mengusir umat Islam dari Yerussalem dan
menyuruh mereka untuk selalu menggunakan salib, sehingga perang ini dinamakan Crusades
(Perang Salib).[3]
Dalam buku
lain disebutkan bahwa cikal bakal terjadinya Perang Salib adalah karena
kehawatiran orang Bizantium atas serangan Dinasti Seljuk yang ingin menyerang
Bizantium yang hendak menguasai pertanian di Bizantium. Sehingga kaisar
Bizantium yakni Alexius Commenus meminta bantuan Paus Urbanus II untuk
menggerakkan kaum Kristen untuk membantu mereka menghalau kedatangan Seljuk.[4]
Paus Urbanus II ahirnya memenuhi permintaan kaisar Bizantium. Paus Urbanus II
kemudian mengumpulkan kaum Kristen untuk bersatu menyerang kaum Islam. [5]
Dalam
pidatonya, Paus Urbanus II mengobarkan semangat umat kristen dengan cara
menyatakan bahwa dengan mengikuti perang salib maka dosa-dosa yang lalu akan
diampuni dan dijamin masuk surga, selain itu keluarga pejuang perang salib akan
mendapat jaminan hidup dan keselamatan.
Sehingga
para pejuang Perang Salib tidak hanya berasal dari daerah Roma saja, akan
tetapi berasal dari kerajaa-kerajaan di Eropa, mulai dari relawan rakyat biasa,
pedagang, petani, bahkan para perampok yang ingin masuk surga.[6]
Dari beberapa uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa
sebab-sebab terjadinya Perang Salib antara lain:[7]
- Faktor Agama
Direbutnya
Baitul Maqdis (471 H/ 1070 M) oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan Fathimiyah
yang berkedudukan di Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam
menunaikan ibadah di tempat sucinya. Karena Dinasti Seljuk menerapkan peraturan
yang sangat ketat kepada para umat Kristiani ketika hendak beribadah di Tanah
Suci (Baitul Maqdis). Hingga mereka yang baru pulang dari beribadah ke Baitul
Maqdis selalu mengeluh akan sikap buruk Dinasti Seljuk yang terlalu fanatik.
Para
pemimpin politik Kristen tetap saja masih berfikir keuntungan yang dapat
diambil dari konsepsi mengenai Perang Salib, dan untuk memperoleh kembali
keleluasaannya berziarah ke tanah suci Yerussalem. Pada tahun 1095 M, Paus
Urbanus II berseru kepada umat Kristiani di Eropa supaya melakukan perang suci.
Seruan Paus Urbanus II berhasil memikat banyak orang-orang Kristen karena dia
menjanjikan sekaligus menjamin, barang siapa yang melibatkan diri dalam perang
suci tersebut akan terbebas dari hukuman dosa.
2. Faktor
Politik
Kekalahan Bizantium
(Constantinople/Istambul) di Manzikart pada tahun 1071 M, dan jatuhnya Asia
kecil dibawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius I Comneus (kaisar
Bizantium) untuk meminta bantuan Paus Urbanus II, dalam usahanya untuk mengembalikan
kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Saljuk. Dilain pihak Perang
Salib merupakan puncak sejumlah konflik antara negara-negara Barat dan
negara-negara Timur, maksudnya antara umat Islam dan umat Kristen.
Dengan perkembangan dan kemajuan yang
pesat menimbulkan kecemasan pada tokoh-tokoh Barat, sehingga mereka melancarkan
serangan terhadap umat Islam. Situasi yang demikian mendorong penguasa-penguasa
Kristen di Eropa untuk merebut satu-persatu daerah-daerah kekuasaan Islam,
seperti Mesir, Yerussalem, Damascus, Edessca dan lain-lainnya.
Selain itu, kondisi kekuasaan Islam
pada saat itu sedang melemah. Sehingga orang-orang Kristen Eropa berani untuk
melakukan pemberontakan dengan cara Perang Salib, yajni ketika Dinasti Seljuk
di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir sedang
dalam keadaan lumpun, sedangakan Islam di Spanyol semakin goyah. Keadaan ini
semakin parah dengan pertentangan segitiga antara kholifah Fatimiyah di Mesir,
kholifah Abbasiyah di baghdad, dan kholifah Umayyah di Cordoba.
3. Faktor
Sosial
Stratifikasi sosial yang terdapat
pada masyarakat sosial Eropa yang terbagi kepada tiga tingkat, yakni kaum
gereja, kaum bangsawan, dan kaum rakyat jelata. Rakyat jelata dianggap sebagai
kaum marginal dan tidak memiliki kedudukan apapun dalam masyarakat, kehidupan
mereka sangat tertindas dan harus mengikuti apa kata tuan tanah, sehingga
kehidupan mereka selalu dibayang-bayangi rasa kehawatiran.
Dengan adanya seruan untuk Perang
membuat mereka bersemangat. Dengan harapan agar mereka bisa memiliki kedudukan
yang lebih baik lagi, selain itu mereka diberi janji untuk mendapatkan
kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik.
4. Faktor
Ekonomi
Semenjak abad ke X, kaum muslimin
telah menguasai jalur perdagangan di laut tengah, dan para pedagang Eropa yang
mayoritas Kristen merasa terganggu atas kehadiran pasukan muslimin, sehingga
mereka mempunyai rencana untuk mendesak kekuatan kaum muslimin dari laut itu.
Hal ini didukung dengan adanya
ambisi yang luar biasa dari para pedagang-pedagang besar yang berada di pantai
Timur laut tengah (Venezia, Genoa dan Piza) untuk menguasai sejumlah kota-kota
dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan laut tengah, sehingga dapat
memperluas jaringan dagang mereka, Untuk itu mereka rela menanggung sebagian
dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat
perdagangan mereka, karena jalur Eropa akan bersambung dengan rute-rute
perdagangan di Timur melalui jalur strategis tersebut.
Strata sosial juga berpengaruh pada
faktor ekonomi. Hal ini karena ada sebuah tradisi bahwa pewaris harta adalah
anak tertua, ketika anak tertua meninggal maka semua harta akan diserahkan
kepada gereja. Hal ini menyebabkan populasi kemiskinan di Eropa semakin tinggi,
sehingga ketika ada seruan untuk melakukan Perang Salib mereka mendapatkan
secercah harapan untuk perbaikan ekonomi.
Perang Salib merupakan perang suci
bagi umat Kristiani, akan tetapi Perang Salib sebagai perang suci hanyalah
sebagai kedok pemimpin gereja Roma, karena sebenarnya faktor dan tujuan Perang
Salib adalah karena Politik dan Ekonomi. Sehingga beberapa relawan Perang Salib
juga tidak hanya perang atas nama Tuhan, akan tetapi karena kepentingan
masing-masing.[8]
Saat perang Salib, tentara Kristen,
Jerman, Yahudi membantai orang Islam di jalan-jalan. Berbalik 180 derajat
dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Padahal Islam biasanya
memperlakukan negara Kristen jajahanya dengan baik dan bahkan mereka diberi
jabatan dalam pemerintahan.[9]
“Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang
lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan
panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa
mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala,
tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas
mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan
dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini
dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan
dibelenggu lehernya.”
Di atas adalah pernyataan dari
Salahuddin al-Ayyubi yang menggambarkan tentang keadaan pada Perang Salib.
Keadaan yang seperti ini pasti akan sangat menggugah hati siapapun yang membaca
dan meresapi seraya membayangkan keadaan umat Islam yang diperlakukan
sedemikian rupa.
B.
SEJARAH PERANG ANTARA ISLAM DAN YAHUDI
1.
Sejarah singkat konflik islam dan
yahudi
Sebagaimana
yang telah kita ketahui, konflik Israel-Palestina seringkali dipahami sebagai
konflik Yahudi-Islam dan hal ini berhasil mensugesti hampir seluruh dunia Islam
untuk membeci Yahudi dengan segala macam “derivasinya”.Sikap anti-pati terhadap
Yahudi di kalangan mayoritas Islam bahkan telah ditanamkan demikian mengakar
mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikann Islam.[10]
Yahudi kerap digambarkan sebagai makhluk berwatak jelek, berwajah bengis dan
berhati keji, sehingga tidak heran jika kemudian istilah “Yahudi” dijadikan
sebagai bahasa cemooh untuk menyebutkan orang yang “bersifat jelek”.
Segala
kemungkinan bisa saja terjadi ketika kebencian telah dijadikan sebagai landasan
untuk berpikir dan bertindak. Dalam konflik Israel-Palestina misalnya, seruan
agar umat Islam bersatu untuk melawan Zionis-Yahudi bukan sesuatu yang aneh
disuarakan meski dengan alasan yang masih sulit ditebak: apakah merasa senasib
dengan warga Islam Palestina, atau justru dipicu oleh kebencian terhadap Yahudi
yang telah jauh ditanamkan. Sebaliknya, umat Islam dunia bahkan sulit untuk
memberikan dukungan kepada pihak mana ketika terjadi perang Saudara Sunni-Syiah
di wilayah Timur tengah, tetap saja sebagai perang melibatkan korban jiwa yang
tidak dapat ditolerir secara kemanusiaan.
Hampir
mustahil melacak kronologis sejak kapan umat Islam dididik untuk membenci
Yahudi, namun fakta yang ada justru menunjukkan hubungan keduanya cukup baik
sepanjang sejarah umat Islam awal hingga periode pertengahan.Dalam literatur
Islam orang Yahudi diabadikan sejarah sebagai orang yang pernah menjadi
sekretaris nabi khususnya untuk keperluan korespondensi luar negeri, bahkan
nabi juga menunjukkan toleransinya kepada Yahudi dengan berpuasa pada saat
mereka berpuasa.[11]
Pada periode Islam di Spanyol, umat Islam, Yahudi, dan Kristen bersama-sama
membangun dan menghasilkan sebuah peradaban yang berpengaruh pada Renaisance
Eropa.[12]
Memang
kerukunan yang terjalin antara umat Islam dan Yahudi bukan berarti tanpa
konflik.Ketika pengaruh Muhammad semakin kuat dan daya imbau agama yang
diajarkannya semakin terasa di kalangan Yahudi, para pemuka agama Yahudi mulai
mengabaikan perjanjian damai yang pernah dibuat dengan umat Islam. Pengabaian
terbuka atas perjanjian itu ditandai dengan masuk Islamnya Abdullah bin Salam,
seorang rabi terpandang Yahudi yang sempat membujuk keluarganya untuk masuk ke
agama Islam. Kondisi ini membuat Yahudi merasa terancam dan mulai melancarkan
serangan teologis terhadap Muhammad dengan sejumlah pertanyaan dan perdebatan
mengenai pokok-pokok dasar agama Islam. Kebijakan resmi untuk memerangi Yahudi
digariskan Muhammad sejak pristiwa pelecehan seorang wanita muslim oleh
sekelompok Yahudi bani Qainuqa. Sejak saat itu, satu persatu kelompok Yahudi
diusir dari Madinah karena terbukti mendukung pihak Makkah.Kondisi ini sebagaimana
ditulis Hamid Basyaib jelas menunjukkan pertikaian yang disebabkan oleh masalah
politik.[13]
Hingga
terjadi konflik Israel-Palestina yang dalam banyak hal dipandang sebagai
konflik Yahudi-Islam, analisis tentang masalah politik sebagai pemicu konflik
juga banyak digulirkan berbagai pihak.Konflik ini misalnya, merupakan konflik
yang dipicu oleh klaim hak atas tanah Palestina dari kedua pihak yang
bertikai.Seperti ditulis Trias Kuncahyono, Israel selalu mengatakan posisi
legal internasional mereka atas Jerusalem berasal dari mandat Palestina (Palestine
Mandate, 24 Juli 1922). Di pihak lain, Palestina juga menyatakan Jerusalem
(al Quds) akan menjadi ibu kota negara Palestina Merdeka di masa mendatang atas
dasar klaim pada agama, sejarah dan jumlah penduduk di kota itu.[14]
Pertikaian kedua belah pihak pada akhirnya sulit dihindari, sebab klaim hak
atas tanah Palestina bukan sekedar menyangkut latar belakang sejarah dan wilyah
politik, melainkan masalah simbol spiritualitas besar bagi kedua pihak.
Trias
Kuncahyono mengutip Dershowitz[15]
menuliskan, pembagian Jerusalem – menjadi bagian Israel dan bagian Palestina –
sulit untuk dilaksanakan karena peta demografi tidak mudah diubah menjadi peta
politik. Meskipun peta tersebut telah terbagi sebagai wilayah yang dihuni
orang-orang Israel dan wilyah lain yang dihuni orang-orang Palestina, Jerusalem
akan semakin sulit dibagi karena ia merupakan simbol tiga agama besar yang
letaknya saling berdekatan. Jerusalem adalah pusat Yudaisme, tempat disalibnya
Yesus dan kebangkitan serta kenaikannya ke surga, dan tempat yang diyakini umat
Islam sebagai bagian dari perjalanan spiritualitas Muhammad ketika mengalami
perjalanan malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha dan naik
ke Sidratul Munthaha.
Yahudi
menganggap Palestina sebagai “tanah yang dijanjikan” dan mayoritas mereka
meyakini bahwa Yerusalem harus kembali menjadi ibu kota Israel sebagai
intervensi Tuhan untuk mengembalikan hak bangsa Yahudi yang selama ini
tertindas.[16]
Pandangan ini mengakibatkan pergeseran paradigma politik yang mewarnai konflik
Israel-Palestina ke paradigma teologis. Apalagi, mitos yang kerap dikembangkan
untuk memberikan identitas pada Yahudi, adalah: “bangsa tanpa tanah untuk tanah
tanpa bangsa”.[17]
Streotipe tentang Yahudi sebagai “bangsa yang terusir dari tanahnya” ini juga
telah berhasil membentuk konsep teologis orang-orang Yahudi, bahwa – seperti
ditulis Karen Armstong – Tuhan memulai penciptaan dengan tindakan yang kejam
karena keinginan untuk membuat dirinya dikenal oleh para makhluknya.[18]
Keterkucilan dan pengasingan Yahudi bahkan pernah di alami Adam sebelumnya,
karena dosa yang dilakukan Adam membuat ia terusir dari surga. Demikian Yahudi,
mengembara ke seluruh penjuru dunia, menjadi terkucil selamanya, dan merindukan
penyatuan kembali dengan Tuhan.[19]
Ada mitos
lain yang menarik menyangkut konsep teologi Yahudi, yaitu penantian terhadap
datangnya sorang Messiah selama berabad-abad yang diharapkan akan membawa
keadilan dan perdamaian. Dalam keyakinan Yeshiva, sebuah sekte yang didirikan
R. Shalom Dov Ber yang sangat khawatir terhadap masa depan agama Yahudi, mereka
akan menjadi prajurit dalam pasukan rabi yang akan berperang tanpa kenal ampun
dan kompromi untuk memastikan agama Yahudi sejati tetap bertahan, dan
perjuangan mereka akan meratakan jalan bagi kedatangan Messiah.[20]
Cukup beralasan jika kemudian keyakinan Yeshiva ini dipahami dengan pandangan:
Messiah hanya akan turun ketika terjadi keberutalan dan peperangan (ingat mitos
penciptaan Luria.[21]
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Konflik Islam Dan Yahudi
Berdasarkan
uraian mengenai konflik Israel-Palestina sebagaimana dipaparkan di atas,
terlihat jelas bahwa, baik dimensi politik maupun dimensi teologis menjadi dua
hal yang sulit dipisahkan meskipun keduanya harus dapat dibedakan.Beberapa catatan
mengenai konflik Israel-Palestina bahkan memperlihatkan sebuah analisis tentang
pandangan konflik yang bermula dari persoalan politik ke teologis.Fakta semacam
ini dapat dibenarkan, mengingat dalam litaratur Islam sendiri persoalan
persoalan politik lebih dahulu muncul disusul dengan persoalan teologi. Seperti
disebutkan Harun Nasution, memang agak aneh jika dikatakan bahwa persoalan yang
pertama kali timbul dalam Islam adalah persoalan politik yang kemudian
meningkat menjadi persoalan teologi, akan tetapi sejarah menunjukkan fakta
tersebut.[22]
Selain itu, sulitnya memisahkan antara konflik politik dengan konflik teologis
tidak saja disebabkan oleh pergeseran otomatis yang terjadi dari masalah
politik ke teologi sebagaimana yang seringkali muncul, akan tetapi konflik yang
bermula dari persoalan teologi juga tidak jarang memasuki ranah politik sebagai
reaksinya untuk “bertarung” melawan teologi yang lain. Dengan demikian, konflik
politik maupun konflik teologis menjadi dua hal yang saling membaur dan
membutuhkan peranan yang satu terhadap yang lainnya.
Dari
berbagai catatan mengenai latar belakang konflik Israel-Palestina sebagai
bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas, tampak jelas bahwa konflik ini
terlebih dahulu dilatarbelakangi oleh masalah politik yang kemudian menjurus
pada persoalan teologis. Tidak sepenuhnya benar pandangan yang menganggap bahwa
konflik Israel-Palestina murni sebagai persoalan politik, sebab argumentasi
teologis – khususnya yang datang dari pihak Yahudi – juga turut mengambil
peranan dalam konflik ini.Pernyataan yang mungkin lebih tepat adalah, konflik
Palestina-Israel merupakan konflik yang bermula dari persoalan politik dan
sedikit melibatkan persoalan teologis.Namun demikian, sekecil apapun alasan
teologis yang melatar belakangi konflik Israel Palestina, tetap saja alasan
tersebut memiliki pengaruh yang besar pada kebijakan-kebijakan politik yang
diambil oleh negara Israel.
Persoalan
teologis yang penulis maksud adalah keyakinan bangsa Yahudi terhadap tanah yang
dijanjikan dan harus direbut sebagai bentuk intervensi Tuhan untuk
mengembalikan hak bangsa Yahudi yang telah tertindas. Konsep teologis tidak
dimaksudkan sebagai perang agama yang terjadi antara agama Yahudi dan Islam
yang menjadi pandangan “kolektif” hampir seluruh umat Islam, dan harus
ditegaskan bahwa pandangan semacam ini merupakan pandangan yang keliru.[23]
Sepanjang sejarahnya, konflik antara Yahudi dan Islam atas nama agama belum
pernah terjadi, sungguhpun konflik Israel-Palestina telah berlangsung sejak
enam puluh tahun silam. Sebaliknya, konflik atas nama agama justru dialami
Yahudi dengan umat Nasrani, ketika Ferdinand dan Isabella menaklukan Granada
pada tahun 1942 dan memerintahkan pengusiran perkampungan Yahudi yang
mengakibatkan sekitar 70.000 kaum Yahudi berpindah ke agama Kristen, dan mereka
yang terusir hidup di bawah perlindungan Islam (Imperium Utsmaniyah).[24]
Memahami
situasi konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, analisis sosial tentu
menjadi alternatif yang mutlak diperlukan untuk mencari jalan keluar yang
tepat, karena konflik ini – secara luas – menyangkut masalah interaksi sosial
yang menyentuh berbagai aspek. Interaksi sosial tidak selamanya dapat dipahami
sebagai hubungan timbal balik yang bernilai kooperatif (cooperation),
akan tetapi persaingan (competition) dan pertantangan maupun pertikaian
(conflict) merupakan salah satu bentuk interaksi sosial itu sendiri.[25]
Holsti bahkan menyebutkan, pada dasarnya segala jenis hubungan (interaksi)
menunjukkan adanya sifat konflik.[26]
Karenanya, solusi untuk konflik sosial yang membingkai interaksi
Israel-Palestina hanya dapat ditempuh melalui analisis sosial mengingat langkah
ini dapat mengantarkan pemahaman pada faktor-faktor yang membentuk interaksi
antar kelompok dan situasi yang membentuk interaksi tersebut pada level
ketegangan maupun hubungan yang harmonis.[27]
Setidaknya,
interaksi Israel-Palestina yang membentuk konflik teridentifikasi pada dua
masalah besar: politik dan teologis. Jika dilacak dari latarbelakang
sejarahnya, masalah politik pada prinsipnya menjadi pemicu utama yeng membentuk
situasi konflik Israel-Palestina, dan argumentasi teologis tentang berbagai hal
seperti: keyakinan tentang tanah yang dijanjikan; bangsa terpilih; maupun
“tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah”; menjadi kekuatan lain yang
membentuk konflik. Beberapa kalangan bahkan menganggap argumentasi teologis ini
merupakan politik mitos yang diciptakan oleh bangsa Yahudi sendiri untuk
melegitimasi setiap tindakannya dalam mendapatkan “tanah yang dijanjikan”,
sehingga pandangan ini semakin berpotensi membentuk anggapan bahwa konflik
Israel-Palestina murni sebagai konflik yang dipicu oleh permasalahan politik.
BAB III
KESIMPULAN
Peperangan yang terjadi antara islam
dan Kristen (perang salib) merupakan konflik yang dilatarbelakangi oleh beberapa
faktor, yaitu :
1. Faktor agama
2. Faktor sosial
3. Faktor ekonomi
4. Faktor politik
Sedangkan konflik yang terjadi
antara islam dan yahudi (konflik israel-palestina), secara garis besar dipengaruhi
oleh dua faktor, yaitu:
1. Faktor politik
2. Faktor theologies
SEJARAH PERANG TIGA AGAMA
“konflik islam-kristen dan islam-yahudi”
Oleh:
Yoka Zulfiqor
Dosen Pembimbing
Dr. Moh. Dahlan, M. Ag
JURUSAN FILSAFAT AGAMA
PASCA SARAJANA
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
2015/2016
[2] Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History
of the World trought Islamic Eyes. Diterjemahkan oleh Yulianto Liputo,
(Jakarta:Zaman, 2010), hal. 230
[3] Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History
of the World trought Islamic Eyes. Diterjemahkan oleh Yulianto Liputo,
(Jakarta:Zaman, 2010), hal. 230
[4] Meskipun antara Kristen Ortodoks Yunani yang
berpusat di Bizantium telah terjadi perselisihan dengan Roma selama empat puluh
tahun terahir.
[10] Lihat: Irshad Mandji. 2008. “The Truble with
Islam Today: A Wake Up Call for Honesty and Change”. Terjemah: Herlina Permata
Sari. Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Jakarta:
Nun Publisher
[11] Lihat: Muhammad Husein Haekal. 1982. Sejarah
Hidup Muhammad. (Terjemah: Ali Audah). Jakarta: Tintamas
[12] Lihat: Philips K. Hitti. 2002. History of
the Arabs. (terjemah: R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi. S. Riyadi. Jakarta:
Serambi
[13] Hamid Basayib. 1998. “Perspektif Sejarah
Hubungan Islam dan Yahudi”, dalam: Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed). Pasing
Over: Melintasi Batas Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm:346
[14] Trias Kuncahyono. 2008. Jerusalem: Kesucian,
Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: Kompas, hal. 256-257
[15] Trias Kuncahyono. 2008. Jerusalem: Kesucian,
Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: Kompas, hal. 258
[16] Alwi Shihab. 1999. Islam Inklusive: Menuju
Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan, hlm:134
[17] Ralph Scoenman. 2007. “The Hidden Histroy of
Zionism”. Terjemah: Joko. S. Kahhar. Sejarah Zionisme yang Tersembunyi.Sajadah
Perss. 2
[19] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short
History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta:
Jendela, hlm. 15
[20] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short
History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta:
Jendela, hlm. 16
[21] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short
History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta:
Jendela, hlm. 231
[22] Dalam sejarahnya, persoalan teologi pada
mulanya muncul sebagai akibat dari tahkim siffinyang terjadi antara
Muawiyah dan Ali. Problem Muawiyah dan Ali jelas merupakan problem politik
menyangkut kekuasaan Islam. Namun problem ini kemudian melahirkan sejumlah
aliran-aliran teologis, seperti: Syiah, Khawarij, dan Murji’ah sebagai aliran
awal, menyusul aliran-aliran lain seperti Mu’tazilah. (Lihat: Harun Nasution.
1986. Teologi Islam:Aliran-Aliran Sejarah Analisa, dan Perbandingan. Jakarta:
UI Press.
[23] Dalam beberapa pandangan, agama kerap
ditempatkan sebagai salah satu variable pembentuk konflik, sebab semua agama
yang dibawa oleh para utusan Tuhan pada hakikatnya berada dalam misi universal
yang sama: pertama, memberikan afirmasi terhadap kebutuhan spiritual manusia;
kedua, agama diharapkan mampu mewadahi bagi terimplementasikannya amal-amal
social dan kemanusiaan. (Rohadi Abdul Fatah. 2004. Sosiologi Agama. Jakarta:
Titian Kencana Mandiri, hlm:114
[26] K. J. Holsti. 1988. Politik Nasional,
Kerangka untuk Analisis. Jakarta: Rajawali Perss, hlm:171
[27] Lihat: Meutia Ghani. 2007. “Analisis Sosial
Relasi Etno-Religius di Indonesia”. Buletin: Kebebasan. No: IV/2007,
hlm. 2

[2] Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History
of the World trought Islamic Eyes. Diterjemahkan oleh Yulianto Liputo,
(Jakarta:Zaman, 2010), hal. 230
[3] Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History
of the World trought Islamic Eyes. Diterjemahkan oleh Yulianto Liputo,
(Jakarta:Zaman, 2010), hal. 230
[4] Meskipun antara Kristen Ortodoks Yunani yang
berpusat di Bizantium telah terjadi perselisihan dengan Roma selama empat puluh
tahun terahir.
[10] Lihat: Irshad Mandji. 2008. “The Truble with
Islam Today: A Wake Up Call for Honesty and Change”. Terjemah: Herlina Permata
Sari. Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Jakarta:
Nun Publisher
[11] Lihat: Muhammad Husein Haekal. 1982. Sejarah
Hidup Muhammad. (Terjemah: Ali Audah). Jakarta: Tintamas
[12] Lihat: Philips K. Hitti. 2002. History of
the Arabs. (terjemah: R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi. S. Riyadi. Jakarta:
Serambi
[13] Hamid Basayib. 1998. “Perspektif Sejarah
Hubungan Islam dan Yahudi”, dalam: Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed). Pasing
Over: Melintasi Batas Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm:346
[14] Trias Kuncahyono. 2008. Jerusalem: Kesucian,
Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: Kompas, hal. 256-257
[15] Trias Kuncahyono. 2008. Jerusalem: Kesucian,
Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: Kompas, hal. 258
[16] Alwi Shihab. 1999. Islam Inklusive: Menuju
Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan, hlm:134
[17] Ralph Scoenman. 2007. “The Hidden Histroy of
Zionism”. Terjemah: Joko. S. Kahhar. Sejarah Zionisme yang Tersembunyi.Sajadah
Perss. 2
[19] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short
History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta:
Jendela, hlm. 15
[20] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short
History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta:
Jendela, hlm. 16
[21] Karen Armstrong. 2003. “Islam: A Short
History”. Alih Bahasa: Funky Kusnaendy Timur. Islam Sejarah Singkat.Yogyakarta:
Jendela, hlm. 231
[22] Dalam sejarahnya, persoalan teologi pada
mulanya muncul sebagai akibat dari tahkim siffinyang terjadi antara
Muawiyah dan Ali. Problem Muawiyah dan Ali jelas merupakan problem politik
menyangkut kekuasaan Islam. Namun problem ini kemudian melahirkan sejumlah
aliran-aliran teologis, seperti: Syiah, Khawarij, dan Murji’ah sebagai aliran
awal, menyusul aliran-aliran lain seperti Mu’tazilah. (Lihat: Harun Nasution.
1986. Teologi Islam:Aliran-Aliran Sejarah Analisa, dan Perbandingan. Jakarta:
UI Press.
[23] Dalam beberapa pandangan, agama kerap
ditempatkan sebagai salah satu variable pembentuk konflik, sebab semua agama
yang dibawa oleh para utusan Tuhan pada hakikatnya berada dalam misi universal
yang sama: pertama, memberikan afirmasi terhadap kebutuhan spiritual manusia;
kedua, agama diharapkan mampu mewadahi bagi terimplementasikannya amal-amal
social dan kemanusiaan. (Rohadi Abdul Fatah. 2004. Sosiologi Agama. Jakarta:
Titian Kencana Mandiri, hlm:114
[26] K. J. Holsti. 1988. Politik Nasional,
Kerangka untuk Analisis. Jakarta: Rajawali Perss, hlm:171
[27] Lihat: Meutia Ghani. 2007. “Analisis Sosial
Relasi Etno-Religius di Indonesia”. Buletin: Kebebasan. No: IV/2007,
hlm. 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar