Kamis, 15 September 2016

makalah pragmatisme

"makalah pragmatisme"

BAB I
PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai. Secara historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad (abad ke 14 dan ke 15), yang ditamdai dengan munculnya gerakan renaissance.[1] Renaissance berarti kelahiran kembali, yang mengacu kepada gerakan keagamaan dan kemasyarakatan yang bermula di italia (pertengahan abad ke 14). Tujuan utamanya adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani dengan mengaitkan filsafat yunani dengan ajaran agama Kristen. Selain itu, juga dimaksudkan untuk mempersatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.
Disamping itu, para humanis bermaksud meningkatkan suatu perkembangan yang harmonis dari keahlian-keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur klasik.
Renaissance akan banyak memberikan segala aspek realitas. Perhatian yang sungguh-sungguih atas segala hal yang kongkrit dalam ruang lingkup alam semesta, manusia, kehidupan masyarakat, dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat usaha manusia untuk member tempat kepada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan yang lebih besar karena adanya suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat  persoalan yang menerangkan segala macam persoalan yang diperlukan juga pemecahannya. Hal ini dibuktikan adanya perang terbuka terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap orang-­orang yang enggan menggunakan akalnya.
Asumsi yang digunakan, semakin besar kekuasaan akal akan dapat diharapkan lahir “dunia baru” penghuninya (manusia-manusianya) dapat merasa puas atas dasar kepemimpinan akal yang sehat. Aliran yang menjadi pendauluan ajaran filsafat modern ini didasarkan pada suatu kesadaran atas yang individual dan yang kongkrit.[2]
Bermula dari William Ockham (1295-1349), yang mengetengahkan viamoderna (jalan modern) dan via antique (jalan kuno). Akibatnya , manusia di dewa-dewakan, manusia tidak lagi memusatkan pikirannya kepada tuhan dan surga. Akibatnya, terjadi perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat dan membuahkan sesuatu yang mengagumkan.[3] Di sisi lain, nilai filsafat merosot karena di anngap ketinggalan zaman.
Dalam era filsafat modern, yang kemudian di lanjutkan dengan era filsafat abad ke-20, muncullah berbagai aliran pemikiran: Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionisme, Materialisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat Hidup, Penomenologi, Eksistensialisme, Dan Neo-Thomisme.
Pada makalah yang singkat ini, pemakalah akan mencoba menguraikan tentang salah satu aliran pemikiran filsafat tersebut yakni pragmatisme. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis sendiri.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian  Pragmatisme
Pragmatism berasal dari kata pragma yang berarti guna. Pragma berasal dari kata yunani. Maka pragmatisme adalah suatu aliran filsafat abad ke-20 yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis.[4]
      Pragmatisme merupakan teoriu kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu.[5]
Menrut teori ini, suatu kebenaran suatu pernyataan di ukur dengan menggunakan criteria fungsional. Suatu pernyataan benar jika pernyataan tersebut memiliki fungsi atau kegunaan dalam kehidupan praktis. Jadi, kebenaran menurut paham ini bukan kebenaran yang di lihat dari segi etik, baik atau buruk, tetapi kebenaran yang di dasarkan pada kegunaannya. 
B.     Sejarah Kemunculan Fragmatisme
Pragmatisme sebagai suatu gerakan dalam filsafat lahir pada akhir abad ke-19 di Amerika. Karena itu sering dikatakan bahwa pragmatisme merupakan sumbangan yang paling orisinal dari pemikiran Amerika terhadap perkembangan filsafat dunia. Pragmatisme dilahirkan dengan tujuan untuk menjebatani dua kecenderungan berbeda yang ada pada saat itu. Kedua kecenderungan yang mau dijembatani itu yakni, pertantangan yang terjadi antara “yang spekulatif” dan “yang praksis”. Tradisi pemikiran yang spekulatif bersumber dari warisan filsafat rasionalistik Descartes dan berkembang melalui idealisme kritis dari Kant, idealisme absolut Hegel serta sejumlah pemikir rasionalistik lainnya.[6] Warisan ini memberikan kepada rasio manusia kedudukan yang terhormat kerena memiliki kekuatan instrinsik yang besar. Warisan ini pulalah yang telah mendorong para filsuf dan ilmuwan-ilmuwan membangun teori-teori yang mengunakan daya nalar spekulatif rasio untuk mengerti dan menjelaskan alam semesta. Akan tetapi, di pihak lain ada juga warisan pemikiran yang hanya begitu menekankan pentingnya pemikiran yang bersifat praksis semata (empirisme). Bagi kelompok ini, kerja rasio tidak terlalu ditekankan sehingga rasio kehilangan tempatnya. Rasio kehilangan kreativitasnya sebagai instrumen khas manusiawi yang mampu membentuk pemikiran dan mengarahkan sejarah. Hasil dari model pemikiran ini yakni munculnya ilmu-ilmu terapan. Termasuk di dalamnya yakni Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, secara filosofis, pragmatisme berusaha untuk menjebatani dua aliran filsafat tradisional ini. Atas salah satu cara pragmatisme menyetujui apa yang menjadi keunggulan dari empirisme. Hal-hal itu seperti:[7]
1.      Bahwa kita tidak pernah memiliki konsep yang menyeluruh tentang realitas,
2.      Pengetahuan mengenai obyek-obyek material bersumber dari persepsi dengan perspektif yang berbeda-beda,
3.      Dibutuhkan pemahaman multidimensi atau memerlukan pemahaman pluralitas. Jadi pemahaman komprehensif mesti dilihat dalam pluralitas.
Selain sependapat dengan empirisme untuk beberapa hal di atas, pragmatisme juga sependapat dengan tradisi rasionalisme dan idealisme dalam hal keseluruhan nilai hidup, terutama moralitas dan agama memberi makna untuk hidup manusia.
Melihat apa yang ingin dijembatani ini, pragmatisme mengangkat nilai-nilai positif yang ada pada kedua tradisi tersebut. Prinsip yang dipegang kaum pragmatis yakni: tidaklah penting bahwa saya menerima teori ini atau itu; yang penting ialah apakah saya memiliki suatu teori atau nilai yang dapat berfungsi dalam tindakan.[8]
C.     Tokoh Pragmatisme Dan Pemikirannya
1.      Willian James (1842-1910)
Lahir di new York, pada tahun 1842. Setelah belajar ilmu kedokteran di universitas Harvard, ia kemudian pada tahun 1855-1860 belajar di Inggris, prancis, Swiss, dan Jerman.[9]  memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatism kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi, dan filsafat.[10] Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam sepanjang hidupnya mengalami konflik antara pandangan ilmu pengetahuan dengan pandangan agama. Ia beranggapan, bahwa masalah kebenaran tentang asal/tujuan dan hakikatnya bagi orang Amerika terlalu teoritis. Ia menginginkan hasil-hasil yang konkrit. Dengan demikian, untuk mengetahui kebenaran dari idea tau konsep haruslah diselidiki konskuensi-konskuensi praktisnya.
Willian James selain menamakan filsafatnya dengan pragmatisme, juga menyebut dengan istilah radical empirisme (suatu empirisme harus tidak menerima unsure alam bentuk apapun yang tidak alami secara langsung, atau mengeluarkan dari bentuknya unsure yang di alamin secara langsung).
a.       Kebenaran Pragmatisme
Dalam bukunya the meaning of the truth (1909), James mengemukakan bahwa tiada kebenaran mutlak yang berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri, dan terlepas dari segala akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam praktiknya apa yang kita anggap benar dapat di koreksi oleh pengalaman berikutnya.[11] Oleh karena itu, tiada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran “plural” (apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat di ubah oleh pengalaman berikutnya).[12]
Dalam membuktikan suatu kebenaran, James mengajukan pertanyaanapakah yang dilakukan oleh hide padamu dalam menghadapi kehidupan nyata?”. Untuk memilikin nilai-nilai kemanusiaan, setiap ide mestilah berguna untuk mewujudkan setiap tujuan hidup yang jelas. Ketika James menyelidiki teori-teori kebenaran yang tradisional, ia menanyakan apakah arti kebenaran dalam tindakan. Kebenaran harus merupakan nilai dari satu ide. Tak ada suatu motif dalam mengatakan bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar, kecuali untuk member Petunjuk bagi tindakan yang Praktis. Dalam konteks ini, James mengatakan:,[13]
“ideas become true just so far as they help us to get into satisfactory relation other Parts of out experience” (“ suatu ide menjadi benar sejauh ide itu menolong kita untuk memasuki hubungan-hubungan yang menguntungkan dan memuaskan dengan bagian-bagian lain Pengalaman kita”).
James menolak mentah-mentah tentang filsafat tradisional yang mengatakan bahwa kebenaran itu bersifat “monistik” (tunggal). Kebenaran itu relative, subjektif, dan terus berkembang. Nilai perkembangan dalam pragmatism tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya, atau tergantung kepada keberhasilan dari perbbbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar jika bermanfaat bagi pelakunya, jika dapat memperkaya hidup, serta kemungkinan-kemungkinan hidup.
Menurut James, ada dua hal kebenaran pokok dalam filsafat, yaitu tough minded dan tender minded. Tough minded dalam mencari kebenaran hanya lewat pendekatan empiris dan tergantung pada fakta-fakta yang dapat ditangkap indra. Ini tentu saja menuju pada materialism, dan skeptic dan apriori terhadap apa saja yang berbau immaterial (transidental).[14] Sikaf ini dipegang kuat oleh penganut filsafat empirisme. Sementara tender mended hanya mengakui kebenaran yang sifatnya berada dalam ide dan yang bersifat rasional. Tender mended sangat apriori pada realitas. Paham semacam ini dipegang teguh oleh penganut filsafat idealisme. James dating untuk menengahi kedua paham tersebut dalam mengajukan konsep miliorismenya.
b.      Pragmatism dan Etika
Terdapat hubungan yang erat antara konsep pragmatisme mengenai kebenaran dan sumber kebaikan. Selama ide itu bekerja dan menghasilkan hasil-hasil yang memuaskan, maka ide itu bersifat benar. Suatu ide di anggap benar apabila dapat memberikan keuntungan kepada manusia dan yang dapat di percayai tersebut membawa ke arah kebaikan.
Suatu bentuk teori etika dapat di bangun demi teori pragmatisme ini. Metode pragmatisme dalam memebrikan batasan antara baik atau buruk, salah atau benar, adalah sama seperti membatasi apakah suatu itu benar atau salah. Contohnya, mencuri bila ia mendatangkan manfaat bagi pelakunya berarti ia baik, tetapi bila ia mengakibatkan menderita berarti ia buruk.
2.      Jhon Dewey
Ia dilahirkan di Burlington pada tahun 1859. Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore ia menjadi guru besar di bidang filsafat dan kemudian juga bidang pendidikan pada universitas-universitas di Mionnesota, Michigan, Chicago (1894-1904), dan akhirnya universitas Columbia (1904-1929).[15]
Sekalipun Dewey terlepas dari Willian James, ia menghasilkan pemikiran yang nampaknya memiliki persamaan dengan gagasan james. Ia adalah seorang pragmatis tetapi ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah insrtumentalisme. Menurutnya, tugas filsafat ialah memberikan garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tiada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan penyelidikan serta mengelola pengalaman itu secara aktif-kritis.[16] Dengan demikian filsafat akan dapat menyusun suatu system norma-norma dan nilai-nilai.
Pemikiran kita berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman-pengalaman. Gerak itu di bangkitkan segera kita di hadapkan dengan suatu keadaan yang menimbulkan persoalan dalam dunia sekitarnya, dan gerak itu berakhir dalam beberapa perubahan dalam dunia sekitar atau dalam diri kita sendiri. Pengalaman yang langsung bukanlah soal pengetahuan, yang mengandung di dalamnya pemisahan antara subjek dan objek, tetapi menyatukan keduanya. Jika subjek dan objek di pisahkan maka itu bukan pengalaman tetapi pemikiran kembali atas pengalaman tadi. Pemikiran itulah yang menyusun sasaran pengetahuan.[17]
Menurut Dewey, penyelidikan adalah transformasi yang terawasi atau terpimpin dari suatu keadaan yang tertentu. Penyelidikan berkaitan dengan penyusunan kembali pengalaman yang di lakukan dengan sengaja. Oleh karena itu, penyelidikan dengan penilaiannya adalah suatu alat (instrumenth). Jadi yang di maksud dengan instrumentalisme adalah  suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konmsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu, dengan cara pertama-tama menyelidiki bagaimana pikiran berfungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan pengalaman, yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.[18]
Dalam rangka pandangan ini maka yang benar adalah apa yang pada akhirnya di setujui oleh semua orang yang menyelidikinya. Kebenaran di tegaskan dalam istilah-istilah penyelidikan. Kebenaran sama sekali bukan hal yang sekali di tentukan tidak boleh di ganggu gugat, sebab, dalam prakteknya, kebenaran memiliki nilai fungsional yang tetap. Segala pernyataan yang kita anggap benar pada dasarnya dapat berubah[19].
Mengenal adalah berbuat. Kadar kebenarannya akan tampak dari pengujiannya oleh pengalaman-pengalaman di dalam praktek. Satu-satunya cara yang dapar di percaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metode induktif.Metode ini bukan hanya berlaku bagi limu pengetahuan fisika tetapi juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral.[20]
D.    Kekuatan Dan Kelemahan Pragmatisme
1.      Kekuatan Pragmatisme :[21]
a.       Pragmatisme mengarahkan aktivitas manusia untuk hanya sekedar mempercayai pada hal yang sifatnya riil, indrawi, dan yang manfaatnya bisa dinikmati secara praktis pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Pragmatisme telah berhasil mendorong berfikir yang liberal, bebas, dan selalu menyangsikan segala yang ada. Berangkat dari sikap skeptis tersebut, pragmatisme telah mampu mendorong dan member semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktiakn suatu konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan eksperimen-eksperimen sehingga muncullah temuan-temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mendorong secara dahsyat terhadap kemajuan di bidang sosial dan ekonomi.
c.       Sesuai dengan coraknya yang “sekuler” pragmatisme tidak mudah percaya pada “kepercayaan yang mapan”. Suatu kepercayaan dapat di terima apabila terbukti kebenarannya lewat pembuktian yang praktis sehingga pragmatisme tidak mengakui adanya suatu yang sacral dan mitos. Dengan coraknya yang terbuka, kebanyakan kelompok pragmatisme merupakan pendukung terciptanya demokratisasi, kebebasan manusia, dan gerakan-gerakan progresif dalam masyarakat modern.
2.      Kelemahan Pragmatisme:[22]
a.       Pada perkembangannya pragmatisme sangat mendewakan kemampuan akal dalam upaya mencapai kebutuhan kehidupan, maka sikap seperti ini menurus kepada sikap hateisme.
b.      Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah suatu yang nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptakan pola pikir masyarakat yang materialis. Manusia berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat rohaniah, maka dalam otak masyarakat pragmatisme trelah di hinggapi oleh penyakit materialism.
c.       Untuk mencapai tujuan materialismenya, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa mempedulikan lagi bahwa dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya. Ia bekerja tanpa mengenal batas waktu hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan materinya, maka dalam struktur masyarakatnya manusia hidup semakin egois individualis. Dari sini masyarakat pragmatisme menderita penyakit humanisme.





BAB II
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dikatakan pragmatisme jika yang kita pikirkan maupun yang kita tindakan bermanfaat atau berfungsi di dalam kehidupan.
Pragmatisme berkembang sejak abad ke 19 atau 20. Tokoh awal pragmatisme adalah william James, kemudia yang terakhir yaitu John Dewey. John Dewey mendesain lagi pemikiran William James, melalui berbagai kunjungan-kunjungan di berbagai negara, diantaranya di eropa, china, jepang dan lain sebgainya. Dengan kunjungan itu maka dia menemukan pragmatisme yang berkaitan dengan pendidikan.
Menurut James, ada dua hal kebenaran pokok dalam filsafat, yaitu tough minded dan tender minded Menurut John Dewey, bahwa pengalaman tidak terlepas interaksi antara alam dengan kehidupan seseorang. Dimana pengalaman akan membantu kita dalam proses yang lebih baik dihari esok. Suatu pemikiran juga didasarkan atas suatu pengalaman seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Dalam pandangan John Dewey tentang pemikiran dan pengalaman terdapat istilah instrumental, Yang dimaksudkan dengan teori instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam, dengan cara pertama-tama menyelidiki bagaimana pikiran berfungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan pengalaman, yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.
Dalam aliran filsfat pragmatisme ada yang kelebihan dan ada juga kelemahannya. Kelebihannya seseorang dapat berfikir mulai dari hal yang terkecil. Kelemahannya seseorang akan bertindak egois.





DAFTAR PUSTAKA

1.      Leonardo Da Vinci, Michelangelo, dan Machiavelli. Lihat Asmoro Achahmadi, Filsafat Ilmu, Jakarta:Rajawali pers, 2011.
2.      Poedjawijatna, Pembimbing Ke Alam Filsafat, Jakarta: Pt. Pembangunan, 1996.
3.      Asmoro Achahmadi, Filsafat Ilmu, Jakarta:Rajawali pers, 2011.
4.      Mohammad Adib, Filsafat Ilmu “Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan”, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011.
5.      Bdk. Samuel, E. Stumpf, Philosophy: History and Problems, third edition ,New York: McGraw-Hill Book Company, 1983.
6.      Juhaya, S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika “Suatu Pengantar”, Bandung: Yayasan Piara, 1993.
7.      Ahmad Tafsir, Filsafat Umum “ Akal Dan Hati Sejak Tales Sampai James”, Bandung: Pt. Remaja Rosdakaya, 1992.
8.      Harun Hadi Wijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: penerbit Kanisius, 1980.
9.      Ali Maksum, Pengantar Filsafat “Dari Zaman Klasik Hingga Postmodernisme”, Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2011.













FILSAFAT PRAGMATISME

“Ujian Akhir Semester Filsafat Ilmu”







Oleh:
Yoka Zulfiqor

Dosen Pembimbing
Prof. Dr. H. Johanes Sapri, M. Pd












JURUSAN FILSAFAT AGAMA
PASCA SARAJANA
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
2015/2016


[1] Renaissance (kelahiran kembali) adalah istilah yang sering digunakan untuk menamakan gelombang-gelombang kebudayaan dan pemikiran di eropa yang di mulai dari italia (abad ke 14) dan kemudian meluas ke prancis, spanyol, jerman, belanda, inggris dank e Negara-negara eropa lainnya. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain ; Leonardo Da Vinci, Michelangelo, dan Machiavelli. Lihat Asmoro Achahmadi, Filsafat Ilmu, (Jakarta:Rajawali pers, 2011), hal. 113
[2] Poedjawijatna, Pembimbing Ke Alam Filsafat, (Jakarta: Pt. Pembangunan, 1996), hal. 114
[3] Munculnya renaissance telah membawa hidupnya kembali ilmu pengetahuan, dan banyak perubahan sosial dan cultural, inilah oleh para sejarahwan di anggapnya sebagai awal zaman modern. Terdapat dua perkembangan yang penting: (1) penjelajahan-penjelajahan yang geografis dimulai dengan perjalan Columbus (1492), Magellan (1519), dan (2) pemberontakan kaum protestan melawan gereja Roma Katolik oleh tantangan Martin Luther terhadap wibawa Paus (1517). Lihat, Lihat Asmoro Achahmadi, Filsafat Ilmu, (Jakarta:Rajawali pers, 2011), hal. 114.

[4] Asmoro Achahmadi, Filsafat Ilmu, (Jakarta:Rajawali pers, 2011), hal. 124.
[5] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu “Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), cet ii, hal. 123.
[6] Bdk. Samuel, E. Stumpf, Philosophy: History and Problems, third edition (New York: McGraw-Hill Book Company, 1983), hlm. 381-383.
[7] Seperti yang terdapat dalam catatan kuliah kami dalam mata kuliah “Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Fisafat Kontemporer” yang diasuh oleh Dr. J. Ohoituimur.
[8] Ohoitimur, Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer (Pineleng: Traktat Kuliah, 2003), hlm. 56.
[9] Ali Maksum, Pengantar Filsafat “Dari Zaman Klasik Hingga Postmodernisme”, (Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2011), Cet Iv, hal. 197
[10] Asmoro Achmadi, Filsafat,,,, hal. 125
[11] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…., Hal.198.
[12] Juhaya, S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika “Suatu Pengantar”, (Bandung: Yayasan Piara, 1993), hal. 115
[13] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…., Hal.199
[14] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum “ Akal Dan Hati Sejak Tales Sampai James”, (Bandung: Pt. Remaja Rosdakaya, 1992), hal. 200
[15] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…., hal. 202.
[16] Harun Hadi Wijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: penerbit Kanisius, 1980), hal.133.
[17] Harun Hadi Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134.
[18] Harun Hadi Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[19] Harun Hadi Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[20] Harun Hadi Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[21] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…., hal. 206.
[22] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…., hal. 207-208.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar