"makalah pragmatisme"
BAB
I
PENDAHULUAN
Tidak
dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai. Secara historis, zaman
modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad (abad ke
14 dan ke 15), yang ditamdai dengan munculnya gerakan renaissance.[1]
Renaissance berarti kelahiran kembali, yang mengacu kepada gerakan keagamaan
dan kemasyarakatan yang bermula di italia (pertengahan abad ke 14). Tujuan
utamanya adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani dengan
mengaitkan filsafat yunani dengan ajaran agama Kristen. Selain itu, juga
dimaksudkan untuk mempersatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.
Disamping
itu, para humanis bermaksud meningkatkan suatu perkembangan yang harmonis dari
keahlian-keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan
kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur klasik.
Renaissance
akan banyak memberikan segala aspek realitas. Perhatian yang sungguh-sungguih
atas segala hal yang kongkrit dalam ruang lingkup alam semesta, manusia,
kehidupan masyarakat, dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat usaha manusia
untuk member tempat kepada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan yang
lebih besar karena adanya suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat persoalan yang menerangkan segala macam
persoalan yang diperlukan juga pemecahannya. Hal ini dibuktikan adanya perang
terbuka terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap orang-orang yang
enggan menggunakan akalnya.
Asumsi
yang digunakan, semakin besar kekuasaan akal akan dapat diharapkan lahir “dunia
baru” penghuninya (manusia-manusianya) dapat merasa puas atas dasar
kepemimpinan akal yang sehat. Aliran yang menjadi pendauluan ajaran filsafat
modern ini didasarkan pada suatu kesadaran atas yang individual dan yang
kongkrit.[2]
Bermula
dari William Ockham (1295-1349), yang mengetengahkan viamoderna (jalan modern)
dan via antique (jalan kuno). Akibatnya , manusia di dewa-dewakan, manusia
tidak lagi memusatkan pikirannya kepada tuhan dan surga. Akibatnya, terjadi
perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat dan membuahkan sesuatu yang
mengagumkan.[3]
Di sisi lain, nilai filsafat merosot karena di anngap ketinggalan zaman.
Dalam
era filsafat modern, yang kemudian di lanjutkan dengan era filsafat abad ke-20,
muncullah berbagai aliran pemikiran: Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme,
Idealisme, Positivisme, Evolusionisme, Materialisme, Neo-Kantianisme,
Pragmatisme, Filsafat Hidup, Penomenologi, Eksistensialisme, Dan Neo-Thomisme.
Pada
makalah yang singkat ini, pemakalah akan mencoba menguraikan tentang salah satu
aliran pemikiran filsafat tersebut yakni pragmatisme. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pragmatisme
Pragmatism
berasal dari kata pragma yang berarti guna. Pragma berasal dari kata yunani.
Maka pragmatisme adalah suatu aliran filsafat abad ke-20 yang mengajarkan bahwa
yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan
akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis.[4]
Pragmatisme
merupakan teoriu kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria tentang fungsi
atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu.[5]
Menrut
teori ini, suatu kebenaran suatu pernyataan di ukur dengan menggunakan criteria
fungsional. Suatu pernyataan benar jika pernyataan tersebut memiliki fungsi
atau kegunaan dalam kehidupan praktis. Jadi, kebenaran menurut paham ini bukan
kebenaran yang di lihat dari segi etik, baik atau buruk, tetapi kebenaran yang
di dasarkan pada kegunaannya.
B.
Sejarah
Kemunculan Fragmatisme
Pragmatisme sebagai suatu gerakan dalam filsafat lahir pada
akhir abad ke-19 di Amerika. Karena itu sering dikatakan bahwa pragmatisme
merupakan sumbangan yang paling orisinal dari pemikiran Amerika terhadap
perkembangan filsafat dunia. Pragmatisme dilahirkan dengan tujuan untuk
menjebatani dua kecenderungan berbeda yang ada pada saat itu. Kedua
kecenderungan yang mau dijembatani itu yakni, pertantangan yang terjadi antara
“yang spekulatif” dan “yang praksis”. Tradisi pemikiran yang spekulatif
bersumber dari warisan filsafat rasionalistik Descartes dan berkembang melalui
idealisme kritis dari Kant, idealisme absolut Hegel serta sejumlah pemikir
rasionalistik lainnya.[6]
Warisan ini memberikan kepada rasio manusia kedudukan yang terhormat kerena
memiliki kekuatan instrinsik yang besar. Warisan ini pulalah yang telah
mendorong para filsuf dan ilmuwan-ilmuwan membangun teori-teori yang mengunakan
daya nalar spekulatif rasio untuk mengerti dan menjelaskan alam semesta. Akan
tetapi, di pihak lain ada juga warisan pemikiran yang hanya begitu menekankan
pentingnya pemikiran yang bersifat praksis semata (empirisme). Bagi kelompok ini,
kerja rasio tidak terlalu ditekankan sehingga rasio kehilangan tempatnya. Rasio
kehilangan kreativitasnya sebagai instrumen khas manusiawi yang mampu membentuk
pemikiran dan mengarahkan sejarah. Hasil dari model pemikiran ini yakni
munculnya ilmu-ilmu terapan. Termasuk di dalamnya yakni Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK).
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, secara filosofis,
pragmatisme berusaha untuk menjebatani dua aliran filsafat tradisional ini.
Atas salah satu cara pragmatisme menyetujui apa yang menjadi keunggulan dari
empirisme. Hal-hal itu seperti:[7]
1.
Bahwa kita tidak pernah memiliki konsep yang menyeluruh
tentang realitas,
2.
Pengetahuan mengenai obyek-obyek material bersumber dari
persepsi dengan perspektif yang berbeda-beda,
3.
Dibutuhkan pemahaman multidimensi atau memerlukan pemahaman
pluralitas. Jadi pemahaman komprehensif mesti dilihat dalam pluralitas.
Selain
sependapat dengan empirisme untuk beberapa hal di atas, pragmatisme juga
sependapat dengan tradisi rasionalisme dan idealisme dalam hal keseluruhan
nilai hidup, terutama moralitas dan agama memberi makna untuk hidup manusia.
Melihat
apa yang ingin dijembatani ini, pragmatisme mengangkat nilai-nilai positif yang
ada pada kedua tradisi tersebut. Prinsip yang dipegang kaum pragmatis yakni:
tidaklah penting bahwa saya menerima teori ini atau itu; yang penting ialah
apakah saya memiliki suatu teori atau nilai yang dapat berfungsi dalam
tindakan.[8]
C.
Tokoh
Pragmatisme Dan Pemikirannya
1.
Willian
James (1842-1910)
Lahir di new York, pada tahun 1842. Setelah belajar ilmu kedokteran
di universitas Harvard, ia kemudian pada tahun 1855-1860 belajar di Inggris,
prancis, Swiss, dan Jerman.[9] memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatism
kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi, dan
filsafat.[10]
Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam sepanjang hidupnya mengalami konflik
antara pandangan ilmu pengetahuan dengan pandangan agama. Ia beranggapan, bahwa
masalah kebenaran tentang asal/tujuan dan hakikatnya bagi orang Amerika terlalu
teoritis. Ia menginginkan hasil-hasil yang konkrit. Dengan demikian, untuk
mengetahui kebenaran dari idea tau konsep haruslah diselidiki
konskuensi-konskuensi praktisnya.
Willian James selain menamakan filsafatnya dengan pragmatisme, juga
menyebut dengan istilah radical empirisme (suatu empirisme harus tidak menerima
unsure alam bentuk apapun yang tidak alami secara langsung, atau mengeluarkan
dari bentuknya unsure yang di alamin secara langsung).
a.
Kebenaran
Pragmatisme
Dalam
bukunya the meaning of the truth (1909), James mengemukakan bahwa tiada
kebenaran mutlak yang berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri, dan terlepas
dari segala akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala
yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah,
karena di dalam praktiknya apa yang kita anggap benar dapat di koreksi oleh
pengalaman berikutnya.[11]
Oleh karena itu, tiada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah
kebenaran-kebenaran “plural” (apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus
yang setiap kali dapat di ubah oleh pengalaman berikutnya).[12]
Dalam
membuktikan suatu kebenaran, James mengajukan pertanyaan “apakah yang
dilakukan oleh hide padamu dalam menghadapi kehidupan nyata?”. Untuk
memilikin nilai-nilai kemanusiaan, setiap ide mestilah berguna untuk mewujudkan
setiap tujuan hidup yang jelas. Ketika James menyelidiki teori-teori kebenaran
yang tradisional, ia menanyakan apakah arti kebenaran dalam tindakan. Kebenaran
harus merupakan nilai dari satu ide. Tak ada suatu motif dalam mengatakan bahwa
sesuatu itu benar atau tidak benar, kecuali untuk member Petunjuk bagi tindakan
yang Praktis. Dalam konteks ini, James mengatakan:,[13]
“ideas become
true just so far as they help us to get into satisfactory relation other Parts
of out experience” (“ suatu ide menjadi benar sejauh ide itu menolong kita
untuk memasuki hubungan-hubungan yang menguntungkan dan memuaskan dengan
bagian-bagian lain Pengalaman kita”).
James
menolak mentah-mentah tentang filsafat tradisional yang mengatakan bahwa
kebenaran itu bersifat “monistik” (tunggal). Kebenaran itu relative, subjektif,
dan terus berkembang. Nilai perkembangan dalam pragmatism tergantung pada
akibatnya, kepada kerjanya, atau tergantung kepada keberhasilan dari
perbbbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar jika
bermanfaat bagi pelakunya, jika dapat memperkaya hidup, serta
kemungkinan-kemungkinan hidup.
Menurut
James, ada dua hal kebenaran pokok dalam filsafat, yaitu tough minded dan
tender minded. Tough minded dalam mencari kebenaran hanya lewat
pendekatan empiris dan tergantung pada fakta-fakta yang dapat ditangkap indra.
Ini tentu saja menuju pada materialism, dan skeptic dan apriori terhadap apa
saja yang berbau immaterial (transidental).[14]
Sikaf ini dipegang kuat oleh penganut filsafat empirisme. Sementara tender
mended hanya mengakui kebenaran yang sifatnya berada dalam ide dan yang
bersifat rasional. Tender mended sangat apriori pada realitas. Paham semacam
ini dipegang teguh oleh penganut filsafat idealisme. James dating untuk
menengahi kedua paham tersebut dalam mengajukan konsep miliorismenya.
b.
Pragmatism
dan Etika
Terdapat
hubungan yang erat antara konsep pragmatisme mengenai kebenaran dan sumber
kebaikan. Selama ide itu bekerja dan menghasilkan hasil-hasil yang memuaskan,
maka ide itu bersifat benar. Suatu ide di anggap benar apabila dapat memberikan
keuntungan kepada manusia dan yang dapat di percayai tersebut membawa ke arah
kebaikan.
Suatu
bentuk teori etika dapat di bangun demi teori pragmatisme ini. Metode
pragmatisme dalam memebrikan batasan antara baik atau buruk, salah atau benar,
adalah sama seperti membatasi apakah suatu itu benar atau salah. Contohnya,
mencuri bila ia mendatangkan manfaat bagi pelakunya berarti ia baik, tetapi
bila ia mengakibatkan menderita berarti ia buruk.
2.
Jhon
Dewey
Ia dilahirkan di Burlington pada tahun 1859. Setelah menyelesaikan
studinya di Baltimore ia menjadi guru besar di bidang filsafat dan kemudian
juga bidang pendidikan pada universitas-universitas di Mionnesota, Michigan,
Chicago (1894-1904), dan akhirnya universitas Columbia (1904-1929).[15]
Sekalipun Dewey terlepas dari Willian James, ia menghasilkan
pemikiran yang nampaknya memiliki persamaan dengan gagasan james. Ia adalah
seorang pragmatis tetapi ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah
insrtumentalisme. Menurutnya, tugas filsafat ialah memberikan garis-garis
pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu filsafat tidak
boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tiada faedahnya. Filsafat
harus berpijak pada pengalaman dan penyelidikan serta mengelola pengalaman itu
secara aktif-kritis.[16]
Dengan demikian filsafat akan dapat menyusun suatu system norma-norma dan
nilai-nilai.
Pemikiran kita berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak
kembali menuju pengalaman-pengalaman. Gerak itu di bangkitkan segera kita di
hadapkan dengan suatu keadaan yang menimbulkan persoalan dalam dunia
sekitarnya, dan gerak itu berakhir dalam beberapa perubahan dalam dunia sekitar
atau dalam diri kita sendiri. Pengalaman yang langsung bukanlah soal
pengetahuan, yang mengandung di dalamnya pemisahan antara subjek dan objek,
tetapi menyatukan keduanya. Jika subjek dan objek di pisahkan maka itu bukan
pengalaman tetapi pemikiran kembali atas pengalaman tadi. Pemikiran itulah yang
menyusun sasaran pengetahuan.[17]
Menurut Dewey, penyelidikan adalah transformasi yang terawasi atau
terpimpin dari suatu keadaan yang tertentu. Penyelidikan berkaitan dengan
penyusunan kembali pengalaman yang di lakukan dengan sengaja. Oleh karena itu,
penyelidikan dengan penilaiannya adalah suatu alat (instrumenth). Jadi yang di
maksud dengan instrumentalisme adalah suatu
usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konmsep-konsep,
pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang
bermacam-macam itu, dengan cara pertama-tama menyelidiki bagaimana pikiran
berfungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan pengalaman, yang mengenai
konsekuensi-konsekuensi di masa depan.[18]
Dalam rangka pandangan ini maka yang benar adalah apa yang pada
akhirnya di setujui oleh semua orang yang menyelidikinya. Kebenaran di tegaskan
dalam istilah-istilah penyelidikan. Kebenaran sama sekali bukan hal yang sekali
di tentukan tidak boleh di ganggu gugat, sebab, dalam prakteknya, kebenaran
memiliki nilai fungsional yang tetap. Segala pernyataan yang kita anggap benar
pada dasarnya dapat berubah[19].
Mengenal adalah berbuat. Kadar kebenarannya akan tampak dari
pengujiannya oleh pengalaman-pengalaman di dalam praktek. Satu-satunya cara
yang dapar di percaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya
yang sebenarnya adalah metode induktif.Metode ini bukan hanya berlaku bagi limu
pengetahuan fisika tetapi juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral.[20]
D.
Kekuatan
Dan Kelemahan Pragmatisme
1.
Kekuatan
Pragmatisme :[21]
a.
Pragmatisme
mengarahkan aktivitas manusia untuk hanya sekedar mempercayai pada hal yang
sifatnya riil, indrawi, dan yang manfaatnya bisa dinikmati secara praktis pragmatis
dalam kehidupan sehari-hari.
b.
Pragmatisme
telah berhasil mendorong berfikir yang liberal, bebas, dan selalu menyangsikan
segala yang ada. Berangkat dari sikap skeptis tersebut, pragmatisme telah mampu
mendorong dan member semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktiakn
suatu konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan eksperimen-eksperimen
sehingga muncullah temuan-temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan dan
teknologi yang mampu mendorong secara dahsyat terhadap kemajuan di bidang
sosial dan ekonomi.
c.
Sesuai
dengan coraknya yang “sekuler” pragmatisme tidak mudah percaya pada “kepercayaan
yang mapan”. Suatu kepercayaan dapat di terima apabila terbukti kebenarannya
lewat pembuktian yang praktis sehingga pragmatisme tidak mengakui adanya suatu
yang sacral dan mitos. Dengan coraknya yang terbuka, kebanyakan kelompok pragmatisme
merupakan pendukung terciptanya demokratisasi, kebebasan manusia, dan
gerakan-gerakan progresif dalam masyarakat modern.
2.
Kelemahan
Pragmatisme:[22]
a.
Pada
perkembangannya pragmatisme sangat mendewakan kemampuan akal dalam upaya mencapai
kebutuhan kehidupan, maka sikap seperti ini menurus kepada sikap hateisme.
b.
Karena
yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah suatu yang
nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme
menciptakan pola pikir masyarakat yang materialis. Manusia berusaha keras untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat rohaniah, maka dalam otak masyarakat
pragmatisme trelah di hinggapi oleh penyakit materialism.
c.
Untuk
mencapai tujuan materialismenya, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa
mempedulikan lagi bahwa dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya. Ia
bekerja tanpa mengenal batas waktu hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan
materinya, maka dalam struktur masyarakatnya manusia hidup semakin egois
individualis. Dari sini masyarakat pragmatisme menderita penyakit humanisme.
BAB
II
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dikatakan pragmatisme jika yang kita pikirkan maupun yang
kita tindakan bermanfaat atau berfungsi di dalam kehidupan.
Pragmatisme berkembang sejak abad ke 19 atau 20. Tokoh awal
pragmatisme adalah william James, kemudia yang terakhir yaitu John Dewey. John
Dewey mendesain lagi pemikiran William James, melalui berbagai
kunjungan-kunjungan di berbagai negara, diantaranya di eropa, china, jepang dan
lain sebgainya. Dengan kunjungan itu maka dia menemukan pragmatisme yang
berkaitan dengan pendidikan.
Menurut
James, ada dua hal kebenaran pokok dalam filsafat, yaitu tough minded dan
tender minded
Menurut John Dewey, bahwa pengalaman tidak terlepas interaksi antara alam
dengan kehidupan seseorang. Dimana pengalaman akan membantu kita dalam proses
yang lebih baik dihari esok. Suatu pemikiran juga didasarkan atas suatu
pengalaman seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Dalam pandangan John Dewey
tentang pemikiran dan pengalaman terdapat istilah instrumental, Yang
dimaksudkan dengan teori instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun
suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan,
penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam, dengan cara
pertama-tama menyelidiki bagaimana pikiran berfungsi dalam penentuan-penentuan
yang berdasarkan pengalaman, yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa
depan.
Dalam aliran filsfat pragmatisme ada yang kelebihan dan ada
juga kelemahannya. Kelebihannya seseorang dapat berfikir mulai dari hal yang
terkecil. Kelemahannya seseorang akan bertindak egois.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Leonardo
Da Vinci, Michelangelo, dan Machiavelli. Lihat Asmoro Achahmadi, Filsafat
Ilmu, Jakarta:Rajawali pers, 2011.
2.
Poedjawijatna,
Pembimbing Ke Alam Filsafat, Jakarta: Pt. Pembangunan, 1996.
3.
Asmoro
Achahmadi, Filsafat Ilmu, Jakarta:Rajawali pers, 2011.
4.
Mohammad
Adib, Filsafat Ilmu “Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu
Pengetahuan”, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011.
5.
Bdk. Samuel, E. Stumpf, Philosophy: History
and Problems, third edition ,New York: McGraw-Hill Book Company, 1983.
6.
Juhaya,
S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika “Suatu Pengantar”, Bandung:
Yayasan Piara, 1993.
7.
Ahmad
Tafsir, Filsafat Umum “ Akal Dan Hati Sejak Tales Sampai James”, Bandung:
Pt. Remaja Rosdakaya, 1992.
8.
Harun
Hadi Wijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: penerbit
Kanisius, 1980.
9.
Ali
Maksum, Pengantar Filsafat “Dari Zaman Klasik Hingga Postmodernisme”,
Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2011.
FILSAFAT PRAGMATISME
“Ujian Akhir Semester Filsafat Ilmu”
Oleh:
Yoka Zulfiqor
Dosen Pembimbing
Prof. Dr. H. Johanes Sapri, M. Pd
JURUSAN FILSAFAT AGAMA
PASCA SARAJANA
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
2015/2016
[1] Renaissance
(kelahiran kembali) adalah istilah yang sering digunakan untuk menamakan
gelombang-gelombang kebudayaan dan pemikiran di eropa yang di mulai dari italia
(abad ke 14) dan kemudian meluas ke prancis, spanyol, jerman, belanda, inggris
dank e Negara-negara eropa lainnya. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain ;
Leonardo Da Vinci, Michelangelo, dan Machiavelli. Lihat Asmoro Achahmadi, Filsafat
Ilmu, (Jakarta:Rajawali pers, 2011),
hal. 113
[2] Poedjawijatna,
Pembimbing Ke Alam Filsafat, (Jakarta: Pt. Pembangunan, 1996), hal. 114
[3] Munculnya
renaissance telah membawa hidupnya kembali ilmu pengetahuan, dan banyak
perubahan sosial dan cultural, inilah oleh para sejarahwan di anggapnya sebagai
awal zaman modern. Terdapat dua perkembangan yang penting: (1) penjelajahan-penjelajahan
yang geografis dimulai dengan perjalan Columbus (1492), Magellan (1519), dan
(2) pemberontakan kaum protestan melawan gereja Roma Katolik oleh tantangan
Martin Luther terhadap wibawa Paus (1517). Lihat, Lihat Asmoro Achahmadi, Filsafat
Ilmu, (Jakarta:Rajawali pers, 2011),
hal. 114.
[5] Mohammad Adib,
Filsafat Ilmu “Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu
Pengetahuan”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), cet ii, hal. 123.
[6] Bdk. Samuel, E. Stumpf, Philosophy: History
and Problems, third edition (New York: McGraw-Hill Book Company, 1983),
hlm. 381-383.
[7] Seperti yang terdapat dalam catatan kuliah kami
dalam mata kuliah “Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Fisafat Kontemporer”
yang diasuh oleh Dr. J. Ohoituimur.
[8] Ohoitimur, Aliran-Aliran Utama Filsafat
Barat Kontemporer (Pineleng: Traktat Kuliah, 2003), hlm. 56.
[9] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat “Dari Zaman Klasik Hingga Postmodernisme”, (Jakarta : Ar-Ruzz
Media, 2011), Cet Iv, hal. 197
[10] Asmoro
Achmadi, Filsafat,,,, hal. 125
[11] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., Hal.198.
[12] Juhaya, S.
Praja, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika “Suatu Pengantar”, (Bandung:
Yayasan Piara, 1993), hal. 115
[13] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., Hal.199
[14] Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum “ Akal Dan Hati Sejak Tales Sampai James”, (Bandung: Pt. Remaja
Rosdakaya, 1992), hal. 200
[15] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., hal. 202.
[16] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: penerbit Kanisius,
1980), hal.133.
[17] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134.
[18] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[19] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[20] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[21] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., hal. 206.
[22] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., hal. 207-208.

[1] Renaissance
(kelahiran kembali) adalah istilah yang sering digunakan untuk menamakan
gelombang-gelombang kebudayaan dan pemikiran di eropa yang di mulai dari italia
(abad ke 14) dan kemudian meluas ke prancis, spanyol, jerman, belanda, inggris
dank e Negara-negara eropa lainnya. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain ;
Leonardo Da Vinci, Michelangelo, dan Machiavelli. Lihat Asmoro Achahmadi, Filsafat
Ilmu, (Jakarta:Rajawali pers, 2011),
hal. 113
[2] Poedjawijatna,
Pembimbing Ke Alam Filsafat, (Jakarta: Pt. Pembangunan, 1996), hal. 114
[3] Munculnya
renaissance telah membawa hidupnya kembali ilmu pengetahuan, dan banyak
perubahan sosial dan cultural, inilah oleh para sejarahwan di anggapnya sebagai
awal zaman modern. Terdapat dua perkembangan yang penting: (1) penjelajahan-penjelajahan
yang geografis dimulai dengan perjalan Columbus (1492), Magellan (1519), dan
(2) pemberontakan kaum protestan melawan gereja Roma Katolik oleh tantangan
Martin Luther terhadap wibawa Paus (1517). Lihat, Lihat Asmoro Achahmadi, Filsafat
Ilmu, (Jakarta:Rajawali pers, 2011),
hal. 114.
[5] Mohammad Adib,
Filsafat Ilmu “Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu
Pengetahuan”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), cet ii, hal. 123.
[6] Bdk. Samuel, E. Stumpf, Philosophy: History
and Problems, third edition (New York: McGraw-Hill Book Company, 1983),
hlm. 381-383.
[7] Seperti yang terdapat dalam catatan kuliah kami
dalam mata kuliah “Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Fisafat Kontemporer”
yang diasuh oleh Dr. J. Ohoituimur.
[8] Ohoitimur, Aliran-Aliran Utama Filsafat
Barat Kontemporer (Pineleng: Traktat Kuliah, 2003), hlm. 56.
[9] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat “Dari Zaman Klasik Hingga Postmodernisme”, (Jakarta : Ar-Ruzz
Media, 2011), Cet Iv, hal. 197
[10] Asmoro
Achmadi, Filsafat,,,, hal. 125
[11] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., Hal.198.
[12] Juhaya, S.
Praja, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika “Suatu Pengantar”, (Bandung:
Yayasan Piara, 1993), hal. 115
[13] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., Hal.199
[14] Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum “ Akal Dan Hati Sejak Tales Sampai James”, (Bandung: Pt. Remaja
Rosdakaya, 1992), hal. 200
[15] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., hal. 202.
[16] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: penerbit Kanisius,
1980), hal.133.
[17] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134.
[18] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[19] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[20] Harun Hadi
Wijono, Sari Sejarah…., hal. 134
[21] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., hal. 206.
[22] Ali Maksum, Pengantar
Filsafat…., hal. 207-208.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar